Drone Serang PLTN Barakah UEA dan Sasar Udara Arab Saudi

Drone Serang PLTN Barakah UEA dan Sasar Udara Arab Saudi
Foto: Ilustrasi Drone Serang PLTN Barakah UEA dan Sasar Udara Arab Saudi.

Sebuah serangan pesawat tanpa awak atau drone dilaporkan memicu kebakaran di area Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Barakah, Uni Emirat Arab (UEA), pada Minggu (18/5/2026), di saat Arab Saudi juga mencegat tiga drone di wilayah udaranya.

Eskalasi keamanan di kawasan Teluk ini terjadi setelah upaya diplomatik untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran menemui jalan buntu, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.

Otoritas UEA menegaskan bahwa mereka sedang menyelidiki asal-usul serangan tersebut dan menyatakan memiliki hak penuh untuk membalas tindakan yang disebut sebagai serangan teroris ini. Kementerian Pertahanan UEA menambahkan bahwa dua drone lainnya berhasil dilumpuhkan setelah diketahui diluncurkan dari wilayah perbatasan barat.

Sementara itu, pemerintah Arab Saudi menyatakan tiga drone yang mereka cegat masuk melalui ruang udara Irak. Meskipun kesepakatan gencatan senjata dalam konflik Iran telah berlaku sejak April 2026, serangan drone dari Irak menuju negara Teluk dilaporkan masih terus terjadi.

Kantor Media Abu Dhabi mengonfirmasi bahwa drone menghantam sebuah generator listrik di luar perimeter dalam PLTN Barakah, namun tingkat keselamatan radiologis tidak terdampak dan tidak ada korban luka. Otoritas Jaringan Nuklir Federal UEA juga memastikan fasilitas pembangkit listrik tetap aman serta tidak ada materi radioaktif yang bocor.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan bahwa generator diesel darurat kini dikerahkan untuk memasok listrik ke Unit 3 PLTN tersebut. Sepanjang perang yang dipicu oleh serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu, Tehran berulang kali membidik infrastruktur sipil dan sektor energi di negara Teluk yang menampung pangkalan militer AS.

Hubungan diplomatik antara AS dan Iran saat ini masih terpaut sangat jauh setelah lima minggu gencatan senjata yang rapuh berjalan. Washington mendesak Tehran membongkar program nuklirnya, sementara Iran menuntut ganti rugi perang, pencabutan blokade pelabuhan, serta penghentian pertempuran di semua lini, termasuk pertempuran Israel melawan Hizbullah di Lebanon.

"Bagi Iran, waktu terus berjalan, dan mereka sebaiknya bergerak CEPAT, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka. WAKTU ADALAH HAL YANG UTAMA!" tulis Donald Trump, Presiden Amerika Serikat melalui platform Truth Social.

Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan jajaran penasihat keamanan nasional tingkat tinggi pada hari Selasa untuk membahas opsi tindakan militer terhadap Iran. Pekan ini, Trump sempat menggelar pembicaraan dengan Presiden China Xi Jinping namun gagal mendapatkan sinyal bantuan penyelesaian konflik.

"AS akan menghadapi skenario kejutan yang agresif dan baru, serta akan tenggelam dalam rawa yang mereka buat sendiri." ujar Abolfazl Shekarchi, juru bicara senior angkatan bersenjata Iran merespons ancaman tersebut.

Pihak Iran menilai tuduhan yang diarahkan kepada mereka merupakan bentuk pengalihan isu atas situasi yang terjadi di kawasan. Ketegangan global kini kian meningkat seiring dengan dampak yang mulai meluas ke sektor lainnya.

"sengaja mengambinghitamkan Iran atas destabilisasi pasar energi global demi menutupi agresi militer tanpa provokasi yang mereka lakukan terhadap Iran." tuduh Esmaeil Baqaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran terhadap AS dan Israel.

Gangguan pelayaran di Selat Hormuz telah memicu krisis pasokan minyak terbesar dalam sejarah yang melambungkan harga energi dunia, di mana AS menerapkan blokade ketat di pelabuhan Iran dan mengklaim telah mengalihkan rute 81 kapal komersial serta melumpuhkan empat kapal hingga Minggu.

Di sisi lain, Ketua Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menyatakan bahwa Tehran telah menyiapkan mekanisme khusus untuk mengatur lalu lintas pelayaran melalui rute yang ditentukan di Selat Hormuz yang akan segera diumumkan dalam waktu dekat.

Artikel terkait

Rekomendasi