Urgensi penguatan infrastruktur keselamatan perkeretaapian nasional kembali mencuat setelah insiden kecelakaan maut melanda wilayah Bekasi Timur pada April lalu. Pembangunan jalur ganda ganda atau double-double track (DDT) di area Jabodetabek menjadi salah satu proyek yang kini mendapatkan sorotan tajam.
Akselerasi penanganan perlintasan sebidang dan penguatan jalur padat kereta api dinilai mendesak untuk menekan risiko kecelakaan, seperti dilansir dari Nasional. Penataan kawasan rawan tersebut memerlukan langkah konkret mulai dari pembangunan fasilitas fisik hingga penempatan petugas penjaga.
"Kalau sudah bicara lintas sebidang supaya ini tidak berbahaya, tentu harus kita tata. Kita bikin underpass, kita bikin overpass, kita pasang pintu palang dengan penjaga, dan seterusnya. Tapi semua ini urusan yang membutuhkan biaya," ujar Lasarus selaku Ketua Komisi V DPR RI dalam rapat kerja bersama Menteri Perhubungan dan pemangku kepentingan transportasi di DPR RI pada Kamis (21/5).
Upaya pembenahan keselamatan moda transportasi ini menghadapi tantangan besar karena ribuan titik perlintasan sebidang di berbagai wilayah tanah air belum tertangani secara optimal. Kawasan dengan pergerakan kereta paling padat seperti Jabodetabek diprioritaskan untuk pengembangan jalur rel serta pemisahan lintasan.
"Apakah Rp 4 triliun itu menyelesaikan masalah? Belum. Masih sangat jauh. Ada ribuan titik perlintasan sebidang yang belum dibangun," kata Lasarus.
Sektor pembenahan yang menjadi fokus perhatian komisi legislatif tersebut tidak terbatas pada lintasan sebidang semata. Langkah evaluasi juga menyasar sistem operasional, proses investigasi kecelakaan, hingga perluasan kapasitas operasional jalur kereta yang telah mengalami kelebihan beban.
Fokus pengembangan infrastruktur kini diarahkan kembali pada kelanjutan proyek DDT Manggarai-Cikarang. Proyek strategis tersebut sejak awal dirancang guna memisahkan jalur perjalanan kereta antarkota dengan KRL Commuter Line di lintas timur Jabodetabek demi menjaga kelancaran sekaligus meningkatkan keamanan.
Meskipun sebagian jalur DDT telah berfungsi untuk rute Manggarai menuju Cakung, penyelesaian infrastruktur tambahan masih diperlukan pada beberapa segmen lanjutan yang mengarah ke Bekasi dan Cikarang. Hambatan kepadatan perjalanan antarpemain moda dinilai dapat terurai melalui penyelesaian proyek ini.
Peristiwa kecelakaan di Bekasi Timur sebelumnya melibatkan rangkaian KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek yang dipicu oleh insiden lain di perlintasan sebidang dekat stasiun setempat. Kejadian tersebut mengakibatkan 124 korban dengan fatalitas mencapai 16 orang meninggal dunia.
Pelaksanaan evaluasi secara menyeluruh ditekankan sebagai langkah mitigasi jangka panjang agar tragedi serupa tidak terulang kembali di masa mendatang. Penelusuran akar masalah menjadi prioritas utama dalam membenahi sistem transportasi massal ini.
"Kita ingin ini selesai. Tidak untuk mencari siapa yang salah, tapi supaya kejujuran itu kita ungkap untuk mengetahui sebenarnya masalahnya ada di mana," kata Lasarus.