Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak proposal balasan Iran untuk mengakhiri perang selama 10 pekan pada Minggu (10/5/2026). Penolakan ini memicu kekhawatiran global terhadap gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz dan stabilitas pasar energi.
Sikap keras Washington terhadap Teheran ditegaskan oleh Trump yang menganggap tawaran tersebut tidak memenuhi persyaratan. Dilansir dari Money, kebuntuan diplomatik ini langsung berdampak pada kenaikan harga minyak mentah dunia akibat ketidakpastian keamanan di kawasan tersebut.
"Saya baru saja membaca respons dari apa yang disebut sebagai ÔÇÿPerwakilanÔÇÖ Iran. Saya tidak menyukainya ÔÇö SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA!" tulis Trump, Presiden Amerika Serikat.
Pemerintah Iran melalui media resminya menyatakan bahwa tuntutan Amerika Serikat dianggap sebagai upaya pemaksaan untuk menyerah. Dalam usulannya, Teheran meminta pencabutan sanksi, kompensasi perang, kedaulatan penuh atas Selat Hormuz, serta pembebasan aset yang dibekukan.
"Kami tidak akan pernah menundukkan kepala di hadapan musuh. Jika ada pembicaraan mengenai dialog atau negosiasi, itu bukan berarti menyerah atau mundur," tulis Pezeshkian, Presiden Iran.
Pihak Israel melalui Perdana Menteri Benjamin Netanyahu turut memberikan tanggapan mengenai situasi keamanan yang belum stabil. Ia menyoroti bahwa Iran masih memiliki cadangan uranium yang diperkaya dan belum membongkar fasilitas nuklirnya.
"pekerjaan yang harus diselesaikan" kata Netanyahu, Perdana Menteri Israel.
Di sektor ekonomi, harga minyak mentah WTI melonjak 4,96 persen menjadi 100,3 dollar AS per barrel, sementara Brent naik 4,92 persen ke posisi 105,76 dollar AS per barrel. Christopher Wong, analis mata uang OCBC Bank, memberikan pandangannya terkait sensitivitas pasar saat ini.
"Pasar minyak tetap sangat sensitif terhadap perkembangan terbaru. Investor berada di antara harapan deeskalasi dan risiko bentrokan sporadis yang terus mempertahankan premi risiko energi," kata Wong, Analis Mata Uang OCBC Bank.
Selain ketegangan diplomatik, eskalasi militer berlanjut dengan serangan drone Iran ke wilayah Teluk, termasuk pencegatan dua drone oleh Uni Emirat Arab. Pihak militer Iran memperingatkan konsekuensi besar bagi lawan jika terjadi kesalahan analisis situasi di lapangan.
"opsi mengejutkan" kata Akraminia, Juru bicara Angkatan Darat Iran.
Krisis ini juga membayangi agenda pertemuan antara Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing. Ben Emons dari Fed Watch Advisors memproyeksikan bahwa hasil pertemuan tersebut mungkin hanya akan mencapai kesepakatan deeskalasi yang terbatas.