Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran pada Rabu (22/4/2026) guna memberikan waktu bagi Teheran mengajukan proposal perdamaian. Keputusan ini diambil atas permintaan mediator Pakistan meskipun ketegangan militer di kawasan Timur Tengah masih terus dipantau secara ketat.
Langkah perpanjangan masa gencatan senjata tersebut memicu kecurigaan dari pengamat politik internasional. Dilansir dari Kompas, Guru Besar Politik Timur Tengah UIN Jakarta Ali Munhanif menilai kebijakan ini berpotensi menjadi strategi persiapan untuk melancarkan serangan kejutan multi-front terhadap Iran dalam waktu dekat.
Ali Munhanif menyoroti kehadiran kekuatan militer Amerika Serikat yang masih masif di titik-titik strategis. Pengiriman tiga kapal induk ke satu kawasan dianggap sebagai fenomena yang tidak lazim dalam sejarah kepemimpinan presiden Amerika Serikat sebelumnya.
"Kita tidak tahu pasti apakah betul-betul ada gencatan senjata sekarang ini, nyatanya misalnya Amerika sedang mengirim tiga kapal induknya di sejumlah titik strategis di Timur Tengah," katanya Ali Munhanif, Guru Besar Politik Timur Tengah UIN Jakarta.
Ali berpendapat bahwa konsentrasi kekuatan armada laut tersebut memiliki tujuan tertentu yang belum terungkap ke publik secara transparan. Ia khawatir masa penundaan serangan ini justru dimanfaatkan untuk menyusun kekuatan militer secara simultan dari berbagai arah geografis.
"Nah, alasan itu adalah saya kira jangan-jangan perpanjangan gencatan senjata ini merupakan persiapan bagi Amerika untuk melakukan serangan kejutan terhadap Iran," katanya Ali Munhanif, Guru Besar Politik Timur Tengah UIN Jakarta.
Di sisi lain, pihak Gedung Putih menegaskan bahwa penundaan serangan militer ini murni bertujuan untuk membuka ruang diplomasi. Presiden Donald Trump menyatakan militer saat ini tetap dalam posisi siaga tinggi sembari menunggu langkah konkret dari pemerintah Iran.
"Oleh karena itu, saya telah mengarahkan militer kita untuk melanjutkan blokade, dan dalam semua hal lainnya, tetap siap dan mampu. Oleh karena itu, akan memperpanjang gencatan senjata sampai proposal mereka diajukan, dan diskusi diselesaikan, dengan satu atau lain cara," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Pemerintah Iran merespons pengumuman tersebut dengan syarat yang tegas terkait kelanjutan perundingan. Duta Besar Iran untuk PBB, Amir-Saeid Iravani, menyatakan pihaknya tidak akan bernegosiasi selama blokade ekonomi di kawasan Selat Hormuz masih diberlakukan oleh Amerika Serikat.
"Amerika Serikat harus menghentikan pelanggaran gencatan senjata sebelum negosiasi apa pun," kata Amir-Saeid Iravani, Duta Besar Iran untuk PBB.
Iran menuding pihak Amerika Serikat telah berulang kali melanggar kesepakatan gencatan senjata sejak awal diberlakukan. Iravani menegaskan bahwa lokasi negosiasi selanjutnya telah ditentukan di Islamabad, Pakistan, segera setelah syarat pencabutan blokade dipenuhi oleh pihak lawan.
"Segera setelah mereka mencabut blokade, negosiasi babak selanjutanya akan digelar di Islamabad (Pakistan). Iran siap untuk skenario apa pun," kata Amir-Saeid Iravani, Duta Besar Iran untuk PBB.