Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan untuk mempertahankan blokade laut terhadap pelabuhan Iran pada Jumat (1/5/2026). Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya kekhawatiran global atas penutupan berkepanjangan Selat Hormuz yang melumpuhkan distribusi energi dunia sejak akhir Februari lalu.
Donald Trump menegaskan bahwa tekanan ekonomi yang dialami Teheran saat ini merupakan hasil dari efektivitas kebijakan blokade tersebut. Hal itu disampaikan Trump guna merespons situasi ekonomi Iran yang kian terpuruk akibat isolasi jalur perdagangan internasional.
ÔÇ£Ekonomi mereka runtuh, blokade ini luar biasa. Ekonomi mereka kacau. Kita lihat saja berapa lama mereka bisa bertahan,ÔÇØ ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Sebagaimana dilansir dari Money, dampak blokade ini telah memicu fluktuasi tajam pada harga minyak dunia. Kontrak minyak Brent sempat melonjak ke level tertinggi 126 dollar AS per barrel pada Kamis (30/4/2026), sebelum akhirnya terkoreksi ke kisaran 112 hingga 114 dollar AS per barrel pada Jumat pagi.
Kenaikan harga energi juga merembet ke pasar domestik Amerika Serikat dengan harga bensin eceran di California yang menembus 6 dollar AS per galon. Meski tekanan politik meningkat menjelang pemilu paruh waktu, Trump meyakini harga bahan bakar akan segera stabil setelah konflik usai.
ÔÇ£Harga bensin akan turun. Begitu perang selesai, harganya akan jatuh drastis,ÔÇØ ujar Trump.
Di pihak lawan, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menunjukkan sikap tidak kooperatif terhadap tuntutan Washington. Khamenei memberikan sinyal kuat bahwa Teheran tidak akan mundur dari posisi mereka saat ini, terutama terkait penguasaan jalur strategis Selat Hormuz.
ÔÇ£Dalam pernyataan langka, ia menegaskan tidak akan menyerahkan teknologi nuklir maupun rudal negaranya, serta memberi sinyal Iran akan tetap menguasai Selat Hormuz,ÔÇØ tulis laporan tersebut merujuk pada pernyataan Khamenei.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian memberikan pembelaan serupa dengan mengecam tindakan militer Amerika Serikat di wilayah perairan tersebut. Pezeshkian menilai blokade yang dilakukan merupakan bentuk agresi langsung terhadap kedaulatan negaranya.
ÔÇ£Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menyebut blokade laut AS sebagai ÔÇ£perpanjangan operasi militerÔÇØ yang tidak dapat diterima,ÔÇØ tulis laporan itu lebih lanjut.
Analis dari Bloomberg Economics, Becca Wasser dan Chris Kennedy, memberikan tinjauan bahwa Trump kemungkinan besar akan segera meningkatkan eskalasi tindakan. Analisis mereka menyebutkan bahwa opsi serangan militer lanjutan tetap menjadi skenario utama dalam dua pekan ke depan.
ÔÇ£Pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan meningkatkan tekanan, tetapi kapan dan bagaimana,ÔÇØ tulis Wasser dan Kennedy dalam laporan analisisnya.
Saat ini, militer Amerika Serikat dilaporkan tengah menyiapkan berbagai opsi strategis, termasuk rencana serangan singkat untuk mengakhiri kebuntuan negosiasi. Di sisi lain, nilai mata uang Iran terus melemah ke level terendah baru akibat kapasitas penyimpanan minyak yang mulai mencapai batas maksimal.