Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menyerang Oman apabila negara tersebut tidak mematuhi keinginan Washington untuk mengendalikan Selat Hormuz, seperti dilansir dari Media Indonesia. Ancaman kontroversial ini disampaikan dalam rapat kabinet di Gedung Putih pada Kamis (28/5/2026) waktu setempat.
Tuntutan tersebut dikeluarkan di tengah upaya Amerika Serikat merundingkan kesepakatan damai dengan Iran demi membuka kembali jalur pelayaran vital yang telah tertutup selama hampir 90 hari. Pemblokiran rute pasokan energi utama ini memicu lonjakan harga energi global yang mengancam stabilitas ekonomi dunia.
Donald Trump mendesak Oman dan negara-negara Arab lain segera menandatangani Abraham Accords untuk normalisasi hubungan diplomatik dengan Israel. Eskalasi ketegangan mencuat saat Presiden Amerika Serikat menanggapi pertanyaan wartawan mengenai draf kesepakatan jangka pendek pengelolaan Selat Hormuz antara Iran dan Oman.
"Oman harus bersikap seperti yang lain atau kita harus menghancurkan mereka (blow them up). Tidak akan ada yang mengendalikannya," ujar Trump, Presiden Amerika Serikat.
Pernyataan spontan tersebut kemudian diunggah oleh akun resmi Departemen Luar Negeri di platform X. Di sisi lain, seluruh upaya Amerika Serikat untuk membuka kembali selat tersebut melalui jalur militer maupun diplomasi masih belum membuahkan hasil hingga saat ini.
Presiden Amerika Serikat juga menyatakan kesiapan untuk membatalkan pembicaraan damai dengan Iran jika negara-negara Timur Tengah tidak menandatangani Abraham Accords sebagai bentuk rasa terima kasih. Donald Trump menilai negara-negara kawasan tersebut berutang budi karena Washington telah menangani ancaman nuklir Iran.
"Mereka berutang pada kami. Saya tidak yakin kita harus membuat kesepakatan (dengan Iran) jika mereka tidak menandatangi (Abraham Accords)," tegas Trump, Presiden Amerika Serikat.
Kebijakan luar negeri ini mulai menghadapi tantangan politik di Capitol Hill setelah sejumlah anggota Partai Republik mempertanyakan narasi Gedung Putih terkait Iran. Kendati demikian, kelompok neokonservatif dan pendukung pro-Israel terus mendesak agar setiap kesepakatan mencakup penghancuran total program nuklir Iran.