Sejumlah pencari kerja penyandang disabilitas mengeluhkan minimnya ketersediaan lowongan pekerjaan bagi mereka dalam acara Jakarta Utara Job Fair 2026 di Gedung Olahraga Gelanggang Remaja Jakarta Utara pada Selasa (19/5/2026).
Acara bursa kerja yang dipenuhi puluhan stan perusahaan tersebut dinilai belum ramah terhadap pelamar berkebutuhan khusus, seperti tunanetra, yang datang membawa harapan untuk bekerja. Ketiadaan kepastian dan informasi mengenai formasi disabilitas membuat beberapa pelamar terpaksa pulang dengan tangan kosong, sebagaimana dilansir dari Megapolitan.
Salah satu pencari kerja tunanetra, Fandi, mendatangi lokasi tersebut demi mencari kejelasan mengenai ruang bagi kelompok disabilitas dari pihak panitia penyelenggara.
"Makanya saya nanya nih, ke sini tuh tujuannya ya gitu ada nggak lowongan buat disabilitas. Tapi dari tadi belum ada ini konfirmasi. Kalau memang sekiranya nggak ada, saya mau pulang," ujar Fandi, pencari kerja.
Ia sempat memutuskan untuk mengecek langsung ke beberapa stan perusahaan yang ada di dalam ruang pameran, namun pencarian tersebut tidak membuahkan hasil positif.
"Enggak ada yang buat saya ternyata," tutur Fandi, pencari kerja.
Kondisi serupa juga dialami oleh Dadang, seorang tuna netra asal Jakarta Barat yang sengaja datang sendirian menggunakan moda transportasi TransJakarta menuju lokasi acara di Jakarta Utara.
Pria berusia 45 tahun ini sebelumnya berprofesi sebagai petugas telemarketing di sebuah bank swasta sebelum terkena kebijakan pengurangan staf.
"Saya berakhir di akhir Desember 2025. Katanya sih mau pengurangan karyawan gitu," kata Dadang, pencari kerja.
Sebelum mengikuti bursa kerja di Jakarta Utara, Dadang tercatat sudah berulang kali mendatangi kegiatan serupa yang digelar di wilayah Jakarta Barat hingga Jakarta Selatan.
"Kalau job fair sih yang saya lalui sering ya. Saya mulai dari wali kota ke wali kota aja sih. Tapi ternyata ya buat disabilitas itu kurang," ujarnya, pencari kerja.
Menurut pengakuannya, jawaban yang kerap ia terima dari para petugas di berbagai wilayah selalu senada mengenai ketiadaan kuota bagi penyandang disabilitas.
"Dari Jakarta Barat juga sama, katanya buat disabilitas belum ada. Terus saya pindah lari ke Jakarta Selatan juga sama. Dan ini yang untuk Utara nih, udah yang ketiga kali wali kota nih saya," kata Dadang, pencari kerja.
Ia berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dapat lebih memperhatikan hak kerja bagi para penyandang disabilitas melalui penyediaan kuota lowongan kerja yang nyata.
"Harapan saya sih untuk pemerintah DKI Jakarta mengadakan lowongan kerja untuk disabilitas. Ternyata disabilitas itu bukan untuk dikasihani ya, untuk mencari pekerjaan juga dikasih kesempatan untuk bekerja juga sih," tutur Dadang, pencari kerja.
Hingga siang hari, situasi di dalam aula Gelanggang Remaja Jakarta Utara masih dipadati oleh ribuan pelamar kerja umum yang mengantre di berbagai stan perusahaan.