Dinkes DKI Ingatkan Risiko Penyakit Akibat Fenomena El Nino

Dinkes DKI Ingatkan Risiko Penyakit Akibat Fenomena El Nino
Foto: Ilustrasi Dinkes DKI Ingatkan Risiko Penyakit Akibat Fenomena El Nino.

Dinas Kesehatan DKI Jakarta memperingatkan warga mengenai ancaman lonjakan penyakit serius akibat kombinasi suhu ekstrem dan polusi udara yang dipicu fenomena El Nino pada Selasa (14/4/2026). Kondisi cuaca yang kian menyengat di ibu kota tersebut berpotensi membebani ketahanan fisik masyarakat secara signifikan.

Sebagaimana dilansir dari Megapolitan, fenomena iklim ini memicu kenaikan suhu serta penurunan kualitas udara yang saling memperburuk dampak kesehatan. Pihak otoritas kesehatan mengidentifikasi risiko peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) seiring dengan memburuknya polusi di wilayah perkotaan.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menyatakan bahwa suhu tinggi dapat memicu dehidrasi parah serta memperberat kondisi pasien dengan riwayat penyakit kronis.

"El Nino ekstrem menyebabkan kenaikan suhu yang signifikan, kekeringan, serta penurunan kualitas udara terjadi secara bersamaan dan saling memperburuk dampak terhadap kesehatan masyarakat," ujar Ani Ruspitawati, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta.

Peningkatan polusi udara juga menjadi perhatian utama karena dampaknya yang langsung menyasar sistem pernapasan warga secara luas.

"Polusi yang meningkat dapat memperburuk asma dan penyakit saluran pernapasan lainnya," kata Ani Ruspitawati, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta.

Guna meminimalkan dampak buruk, pihak dinas mengimbau masyarakat untuk mengurangi durasi kegiatan di luar ruangan, terutama saat matahari berada pada titik tertinggi.

"Pastikan untuk banyak minum air yang cukup untuk menghindari dehidrasi. Kami juga menyarankan warga menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan untuk mengurangi paparan polusi udara," ujar Ani Ruspitawati, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta.

Epidemiolog Dicky Budiman menyoroti kesiapan sistem kesehatan Jakarta yang dinilai masih bersifat reaktif dalam menghadapi multi-hazard event akibat krisis iklim.

"Secara struktural sistem kesehatan di Jakarta tentu relatif lebih siap dibanding daerah lain, tapi belum sepenuhnya adaptif terhadap risiko iklim ekstrem, apalagi bicara El Nino kuat ini," ujar Dicky Budiman, Epidemiolog.

Lonjakan beban fasilitas kesehatan diprediksi akan terjadi apabila gelombang panas terjadi bersamaan dengan tingkat polusi yang tinggi.

"Fasilitas kesehatan kita rentan overload saat multi hazard event, terutama jika panas ekstrem terjadi bersamaan dengan polusi dan penyakit infeksi," kata Dicky Budiman, Epidemiolog.

Kondisi ini dianggap sangat mengkhawatirkan bagi kelompok masyarakat yang memiliki akses terbatas terhadap ruang perlindungan yang memadai.

"Kalau saya melihat, Jakarta itu semi siap, tapi menghadapi risiko sistem strain kalau terjadi kombinasi heat wave berkepanjangan atau polusi udara tinggi," jelas Dicky Budiman, Epidemiolog.

Penurunan kemampuan pengaturan suhu tubuh pada kelompok lanjut usia menjadikan mereka subjek yang paling rentan terhadap risiko mortalitas harian.

"Termoregulasi pada lansia sudah menurun, sementara anak-anak lebih cepat mengalami dehidrasi. Pekerja lapangan seperti ojek dan konstruksi juga sangat berisiko," kata Dicky Budiman, Epidemiolog.

Dicky juga mengingatkan adanya korelasi langsung antara kenaikan suhu lingkungan dengan risiko penyakit jangka panjang seperti gangguan ginjal.

"Setiap kenaikan suhu satu derajat celsius dapat meningkatkan mortalitas harian, terutama pada lansia," kata Dicky Budiman, Epidemiolog.

Masyarakat diminta untuk lebih peka terhadap sinyal darurat dari tubuh agar bisa segera mendapatkan penanganan medis yang tepat.

"Jangan menunggu haus baru minum. Kenali tanda bahaya seperti pusing, lemas ekstrem, atau tidak berkeringat, itu kondisi darurat yang harus segera ditangani," jelas Dicky Budiman, Epidemiolog.

Pendekatan lintas sektor diperlukan untuk membangun respons yang lebih preventif dalam menghadapi kompleksitas krisis kesehatan ini.

"Risiko terbesar bukan hanya panasnya, tapi kombinasi panas, polusi, dan kerentanan sosial. Respons yang efektif harus bersifat preventif, berbasis data, dan lintas sektor," ucap Dicky Budiman, Epidemiolog.

Artikel terkait

Rekomendasi