Desa Wisata Terong di Belitung resmi terpilih mewakili Provinsi Bangka Belitung dalam ajang Bali Beyond Travel Fair (BBTF) yang akan berlangsung pada 28 hingga 30 Mei 2026 mendatang. Keberhasilan ini diraih setelah melalui proses kurasi ketat oleh Bank Indonesia sebagai bentuk apresiasi atas ketahanan ekonomi desa tersebut.
Transformasi wilayah yang sebelumnya hanya menjadi jalur lintas wisatawan ini membuahkan hasil signifikan bagi ekonomi warga lokal. Dilansir dari Money, Desa Terong kini telah berkembang menjadi destinasi mandiri yang tidak lagi sekadar menjadi penonton arus kunjungan turis menuju pantai populer di Belitung.
Kepala Desa Terong, Iswandi, menceritakan masa sulit ketika warga desa hanya melihat bus pariwisata melintas menuju objek wisata lain tanpa memberikan dampak finansial bagi masyarakat sekitar.
"Ketika pariwisata Belitung itu meledak, kami sebagai warga Desa Terong, ketika bus-bus pariwisata lewat dari bandara, ke Tanjung Kelayang, dari kota Tanjung Pandan ke Tanjung Kelayang, kami waktu itu cuma dapat asapnya doang. Wisatawan enggak mampir, enggak makan, enggak minum," kenang Iswandi, Jumat (24/4/2026).
Menyadari ketertinggalan tersebut, warga desa mulai merancang strategi pengembangan wisata yang tidak bersaing langsung dengan objek wisata pantai yang sudah mapan sejak tahun 2013.
"Kalau waktu itu kita mau head-to-head bersaing dengan Pantai Tanjung Kelayang dan Pantai Tanjung Tinggi, nggak akan menang," ucap Iswandi.
Inspirasi pengembangan Desa Wisata Terong diambil dari keberhasilan Desa Wisata Pentingsari di Sleman yang menonjolkan aspek budaya dan pengalaman unik bagi para pelancong.
"Ketika kita membuka websitenya Desa Wisata Pentingsari, wah ternyata konsep desa wisata bukan hanya menjual keindahan tapi tentang alam dan budaya," ungkap Iswandi.
Desa ini menawarkan berbagai paket pengalaman seperti mendaki, tradisi makan bedulang, hingga aktivitas mencari udang di malam hari yang dikenal dengan istilah nyungkor.
"Desa Wisata Pentingsari jual paket wisata bermain gamelan, membikin wayang dari rumput, hingga kuliner. Nah ketika kita meng-compare dengan riset kita, ternyata itu bisa kita kembangkan," sambung Iswandi.
Pertumbuhan ekonomi desa sempat mencapai puncaknya pada tahun 2019 dengan perputaran uang menyentuh angka hampir Rp 700 juta per tahun, yang dimulai secara swadaya oleh masyarakat.
"Untuk sebuah desa di Belitung, desa kecil, kepulauan, Rp 700 juta itu sudah sangat luar biasa," kenang Iswandi.
Namun, pandemi Covid-19 sempat melumpuhkan aktivitas wisata hingga pendapatan merosot tajam menjadi Rp 60 juta pada tahun 2020 sebelum akhirnya mulai pulih perlahan sejak akhir tahun tersebut.
"Sampai hari ini tiket kunjungan dan perputaran uang masih belum menyamai angka di titik sebelum Covid kemarin," tutur Iswandi.
Meskipun pendapatan tahun 2024 dan 2025 masih berada di kisaran Rp 200 juta, kabar mengenai keikutsertaan dalam ajang internasional di Bali menjadi harapan baru bagi percepatan pemulihan ekonomi desa.
"Alhamdulillah kita dapat kabar baik. Hasil kurasi dari Bank Indonesia Bangka Belitung, kita dapat kabar bahwa kita jadi pemenang untuk mewakili desa wisata Bangka Belitung di ajang BBTF Bali 2026," tutur Iswandi.