Fenomena menarik tengah melanda kawasan wisata Kota Terlarang di Beijing, China, di mana para wisatawan seolah bertransformasi menjadi kaisar dan permaisuri dari masa lalu. Tren ini tidak hanya mengubah wajah destinasi bersejarah tersebut, tetapi juga mendongkrak industri penyewaan kostum dan jasa rias di sekitarnya secara signifikan.
Ledakan popularitas drama China (dracin) bertema kolosal atau drama kostum menjadi faktor utama yang memicu maraknya gaya hidup ini. Saat ini, pemandangan turis yang mengenakan busana megah layaknya karakter dalam film adalah hal yang sangat lumrah ditemui di area Forbidden City.
Salah satu penata rias di sebuah studio dekat Kota Terlarang, Chen Jiao, menceritakan pengalamannya dalam menangani gelombang wisatawan yang ingin berdandan tradisional. Chen mengungkapkan bahwa kunjungannya bisa sangat membeludak, terutama saat memasuki musim liburan atau akhir pekan.
Rutinitas padat Chen dimulai sejak pukul 6 pagi dengan melayani sekitar 24 perempuan muda dalam satu hari. Ia mengaku hampir tidak memiliki waktu istirahat karena permintaan yang terus mengalir sepanjang hari.
Satu-satunya momen Chen bisa bernapas lega adalah ketika gerbang Kota Terlarang resmi ditutup bagi publik. Setiap hari, studio rias dipenuhi pengunjung yang antusias mengenakan jubah penuh sulaman motif burung phoenix yang indah.
Detail aksesori yang dikenakan oleh para wisatawan juga sangat diperhatikan agar terlihat otentik :
- Perhiasan dari batu giok yang melambangkan kemurnian dan status sosial tinggi.
- Untaian mutiara yang memberikan kesan elegan dan mewah pada penampilan.
- Pelindung kuku berwarna emas yang identik dengan gaya hidup bangsawan di masa kekaisaran kuno.
- Tatanan rambut rumit yang disesuaikan dengan era atau dinasti pilihan pengunjung lengkap dengan tusuk konde.
Untuk bisa bertransformasi secara total menjadi sosok bangsawan China kuno, para turis perlu menyiapkan anggaran yang tidak sedikit. Rata-rata biaya yang dikeluarkan adalah sekitar 300 yuan atau setara dengan Rp800 ribu.
Namun, bagi mereka yang menginginkan kualitas premium dan detail yang lebih kompleks, biayanya bisa mencapai lebih dari 1.000 yuan atau sekitar Rp2,6 juta. Setelah proses dandan selesai, para wisatawan akan segera menuju titik-titik ikonik di Kota Terlarang untuk berfoto atau merekam video.
Uniknya, beberapa pengunjung seringkali memadukan elemen tradisional dengan gaya modern yang kontras. Tak jarang terlihat "permaisuri" yang berpose menggunakan kacamata hitam, memakai sepatu kets, atau memegang segelas bubble tea saat sedang difoto.
Dalam beberapa tahun terakhir, minat anak muda terhadap sejarah China memang menunjukkan peningkatan yang cukup pesat. Di wilayah Beijing sendiri, tren busana yang paling diminati umumnya mengacu pada dua dinasti terakhir yang pernah berkuasa.
Berikut adalah ringkasan mengenai dua dinasti yang menjadi inspirasi utama busana para turis :
| Dinasti | Catatan Sejarah dan Kontribusi |
|---|---|
| Dinasti Ming | Berkuasa selama 270 tahun, membangun Kota Terlarang, dan memperkokoh Tembok Besar. |
| Dinasti Qing | Diperintah oleh etnis Manchu dan menjadi penutup era kekaisaran yang berlangsung ribuan tahun. |
Tabel di atas menunjukkan betapa kuatnya pengaruh sejarah terhadap pilihan kostum para wisatawan di Beijing. Cai Zehong, pendiri Hanfu Beijing, menilai bahwa generasi muda telah menemukan keindahan estetika dalam pakaian tradisional sekaligus belajar tentang warisan budaya.
Fenomena ini juga dikonfirmasi oleh Chen Jiao yang sering menonton berbagai judul drama China populer. Menurut pengamatannya, banyak orang merasa terinspirasi untuk merasakan langsung pengalaman berpakaian era kekaisaran setelah menonton acara televisi tersebut.
Industri ini berkembang sangat cepat jika dibandingkan dengan kondisi beberapa tahun yang lalu. Laporan media lokal menyebutkan bahwa pada tahun 2020, jumlah studio kostum di sekitar Kota Terlarang masih bisa dihitung dengan jari.
Salah satu pengunjung, Liu Ruitong yang merupakan mahasiswa asal Provinsi Hebei, memilih untuk mengenakan busana bertema Dinasti Ming berwarna hitam. Ia berpendapat bahwa pemilihan warna gelap memberikan kesan yang sangat elegan serta bermartabat.
Liu merasa bahwa palet warna hitam tersebut sangat serasi dengan atmosfer kuno yang ada di Kota Terlarang. Baginya, pakaian tersebut adalah cara terbaik untuk menyatu dengan pemandangan tradisional China yang megah.