Defisit transaksi berjalan Indonesia mengalami pembengkakan yang cukup tajam pada kuartal pertama tahun 2026. Kondisi ini dipicu oleh pelemahan ekonomi global yang menekan performa ekspor nasional.
Seperti dilansir dari Investortrust, data Bank Indonesia menunjukkan defisit transaksi berjalan melonjak hingga mencapai US$ 4 miliar pada periode Januari sampai Maret. Angka ini setara dengan 1,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Lonjakan tersebut memperlihatkan penurunan dibandingkan kuartal sebelumnya yang tercatat sebesar US$ 2,5 miliar atau sekitar 0,7% dari PDB. Situasi ini meningkatkan ketergantungan pada aliran modal asing yang fluktuatif untuk menutup celah defisit.
Penyebab utama dari melebarnya defisit ini adalah menyusutnya surplus perdagangan barang menjadi US$ 8 miliar. Pada kuartal terakhir tahun 2025, angka surplus tersebut masih berada di level US$ 10,2 miliar.
Nilai ekspor sektor non-migas juga mengalami penurunan dari US$ 69,7 billiar pada tiga bulan sebelumnya menjadi US$ 63,5 miliar. Penurunan ini mengindikasikan bahwa permintaan pasar global terhadap komoditas andalan Indonesia mulai mendingin.
Laporan resmi Bank Indonesia mencatat pertumbuhan ekspor non-migas secara tahunan hanya berada di angka 1,2%. Kendati demikian, terdapat sedikit perbaikan pada sektor jasa berkat pengurangan defisit pariwisata.
Pembalikan Arus Modal Tekan Neraca Pembayaran
Kombinasi antara pelemahan transaksi berjalan dan pembalikan pada akun finansial menyeret Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) ke dalam defisit US$ 9,1 miliar. Kondisi ini berbanding terbalik dengan kuartal IV 2025 yang membukukan surplus US$ 6,1 miliar.
Akun finansial sendiri mencatat defisit sebesar US$ 4,9 miliar yang dipicu oleh jadwal pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo serta penempatan modal domestik ke aset finansial di luar negeri.
Namun, investasi asing langsung tetap menunjukkan tren positif dengan menyumbang surplus bersih senilai US$ 2,02 miliar. Aliran investasi portofolio juga ikut masuk dengan nilai moderat sebesar US$ 730 juta.
Bank Indonesia Pastikan Ketahanan Eksternal Aman
Meski angka defisit mengalami peningkatan, otoritas moneter meminta pelaku pasar tidak panik karena ketahanan ekonomi dinilai masih kokoh menghadapi gejolak eksternal.
"Kinerja Neraca Pembayaran pada triwulan I 2026 tetap terjaga," kata Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso.
Optimisme bank sentral didukung oleh posisi cadangan devisa Indonesia yang bertahan di angka US$ 148,2 miliar pada akhir Maret. Jumlah ini setara dengan 5,8 bulan pembiayaan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, di atas standar kecukupan internasional.