Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menghadapi tekanan dari anggota parlemen Partai Demokrat dalam sidang parlemen selama enam jam pada Rabu (29/4/2026). Debat sengit tersebut menyoroti kebijakan perang terhadap Iran dan klaim penghancuran fasilitas nuklir yang dilansir dari Kompas.
Hegseth memberikan pernyataan kepada anggota DPR dari Partai Demokrat, Adam Smith, bahwa serangan Amerika Serikat pada tahun 2025 telah meluluhlantakkan fasilitas nuklir Iran. Hal ini memicu pertanyaan kritis mengenai konsistensi alasan pemerintahan Donald Trump dalam memulai peperangan di wilayah tersebut.
"Kita harus memulai perang ini. Anda baru saja mengatakan 60 hari lalu, karena senjata nuklir merupakan ancaman nyata," kata Smith dikutip dari Associated Press.
Politikus Demokrat tersebut menekankan adanya kontradiksi informasi mengenai status kapabilitas nuklir Iran saat ini dibandingkan dengan pernyataan pemerintah sebelumnya. Penegasan Smith merujuk pada klaim keberhasilan militer yang dianggap tidak sejalan dengan urgensi konflik.
"Sekarang Anda mengatakan bahwa senjata itu telah sepenuhnya dimusnahkan," ucapnya.
Menanggapi cecaran tersebut, Hegseth menegaskan bahwa Teheran masih memiliki ambisi nuklir dan kekuatan militer yang signifikan. Ia merinci bahwa negara tersebut tetap menyimpan ribuan rudal meskipun fasilitas nuklirnya telah dihancurkan dalam serangan terdahulu.
"Perang kini membuat kita ke keadaan yang sama seperti sebelumnya," ujarnya.
Selain masalah militer, sidang ini juga membahas dampak ekonomi dari penutupan Selat Hormuz sebagai aksi balasan Iran terhadap serangan Amerika Serikat-Israel. Anggota parlemen John Garamendi menyoroti lonjakan harga bensin yang kini membebani kondisi keuangan jutaan warga Amerika.
"Menteri Hegseth, Anda telah telah berbohong kepada rakyat Amerika tentang perang ini sejak hari pertama, dan begitu pula presiden," ucapnya.
Garamendi menilai operasi militer di Iran sebagai sebuah kegagalan strategis yang merusak posisi geopolitik Amerika Serikat. Ia menyampaikan kritik tajam terhadap manajemen krisis yang dilakukan oleh pihak kementerian pertahanan dan pemerintah pusat.
Ia juga menyebut perang Iran sebagai malapetaka geopolitik, kesalahan strategis, dan luka yang ditimbulkan sendiri oleh Amerika.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth langsung bereaksi keras terhadap tuduhan Garamendi. Ia balik menuding bahwa kritik yang disampaikan oleh anggota parlemen tersebut didasari oleh sentimen pribadi terhadap Presiden Donald Trump.
"Siapa yang Anda dukung di sini? Kebencian Anda terhadap Presiden Trump, membutakan Anda atas keberhasilan perang tersebut," ucapnya.