Masyarakat Suku Dayak Bentian di Kecamatan Bentian Besar, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, kini mengoptimalkan rumah adat Lou Bentian sebagai pusat pemberdayaan dan ruang sosial komunal. Bangunan tradisional ini berfungsi sebagai lokasi berbagai kegiatan warga mulai dari pelatihan hingga acara adat rutin.
Penggunaan rumah panjang ini mencakup pertemuan antarkampung dan pelestarian seni budaya yang semakin aktif dilakukan oleh penduduk setempat. Dilansir dari Money, pada April 2026, bangunan tersebut menjadi tempat musyawarah antara tokoh adat dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) guna menyusun rencana kegiatan masyarakat.
Ketua Pokdarwis sekaligus tokoh masyarakat Bentian, AKP (Purn) Lorensius, menyampaikan apresiasi atas dukungan sektor usaha dalam pembangunan fasilitas tersebut melalui keterangan tertulis pada Rabu (6/5/2026). Inisiatif pembangunan ini melibatkan kerja sama dengan perusahaan energi untuk mendukung kelestarian tradisi lokal.
"Kami berterima kasih atas inisiatif ITM melalui anak usahanya TCM, BEK, TIS membangun Lou Bentian dan mendorong pemberdayaan sarana ini untuk pengembangan dan pelestarian budaya dan tradisi masyarakat Bentian khususnya dan Kutai Barat pada umumnya," ujar Lorensius, Ketua Pokdarwis.
Ia berharap fasilitas ini dapat mempererat hubungan antarwarga di wilayah tersebut dalam jangka panjang. Keberadaan bangunan ini dianggap sangat krusial bagi identitas kolektif masyarakat adat.
"Semoga inisiatif ini juga dapat memperkuat silaturahmi dan kebersamaan kami sebagai masyarakat adat," lanjut Lorensius.
Pembangunan Lou Bentian memiliki spesifikasi fisik sepanjang 50 meter dengan sokongan sekitar 300 pilar kayu ulin yang dikenal sangat kokoh. Struktur ini dilengkapi dengan sembilan kamar yang melambangkan sembilan kampung di wilayah Bentian Besar.
Proses konstruksi dimulai sejak tahun 2012 dengan dukungan PT Trubaindo Coal Mining (TCM) dan resmi diresmikan pada 2021 lalu. Pengembangan fasilitas ini kemudian berlanjut dengan pendampingan dari perusahaan mitra lainnya untuk memastikan manfaat luas bagi warga sekitar.
Selain fungsi fisik, kata "Lou" secara harfiah berarti rumah panjang dalam bahasa setempat yang merepresentasikan semangat gotong royong lintas generasi. Arsitektur khas dan ornamen tradisional yang melekat mempertegas identitas budaya Dayak Bentian di tengah transformasi sosial yang terjadi.