Daya Beli Kelas Menengah Rapuh Akibat Penurunan Upah Riil

Daya Beli Kelas Menengah Rapuh Akibat Penurunan Upah Riil
Foto: Ilustrasi Daya Beli Kelas Menengah Rapuh Akibat Penurunan Upah Riil.

Kondisi ekonomi masyarakat Indonesia saat ini dinilai semakin rentan akibat merosotnya daya beli kelompok kelas menengah secara tajam. Meskipun angka konsumsi rumah tangga tampak stabil hingga triwulan I-2026, terdapat indikator yang memberikan sinyal peringatan bagi ketahanan finansial warga.

Dikutip dari Suara, data terbaru dari CORE Indonesia menunjukkan tren yang memprihatinkan pada indeks kondisi ekonomi nasional. Variabel penghasilan saat ini serta ketersediaan lapangan kerja tercatat melandai jika dibandingkan dengan capaian pada periode tahun sebelumnya.

Pertumbuhan Tahunan Konsumsi dan Indeks Penjualan Riil (IPR) memang berada di angka 4,9% pada awal 2026. Namun, angka tersebut dianggap tidak mencerminkan tingkat kesejahteraan yang merata di seluruh lapisan masyarakat, terutama bagi mereka yang berada di sektor menengah.

Direktur Eksekutif Core Indonesia, Mohammad Faisal, mengungkapkan adanya anomali pada sektor ketenagakerjaan yang berdampak langsung pada kantong masyarakat. Hal ini terlihat dari pergerakan upah yang tidak mampu mengimbangi beban pengeluaran harian.

"Bahwa rata-rata pertumbuhan upah riil tahunan (periode Agustus) berada di zona negatif pada November 2025 sebesar -0.7%. Angka ini merupakan penurunan beruntun sejak puncaknya di tahun 2022," kata Mohammad Faisal.

Situasi tersebut memicu perubahan perilaku konsumsi dan pembiayaan di tengah masyarakat. Banyak warga kini mulai beralih ke solusi instan guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yang tidak lagi tertutupi oleh penghasilan rutin bulanan mereka.

"Alternatif pembiayaan ini mengalami lonjakan signifikan sebagai solusi instan masyarakat. Pinjaman daring (pinjol) masih menjadi pilihan utama meski berisiko tinggi. Kredit konsumsi yang menunjukkan pertumbuhan yang konsisten namun berisiko membebani arus kas rumah tangga di masa depan," ujar Faisal.

Anomali Pengeluaran dan Prioritas Konsumsi

Penurunan pertumbuhan pengeluaran terlihat jelas pada kelompok masyarakat kategori calon kelas menengah dan kelas menengah sepanjang tahun 2025. Kondisi ini berbanding terbalik dengan kelompok kelas atas yang cenderung masih memiliki stabilitas ekonomi yang nyaman.

Lesunya daya beli juga terekam pada data penjualan riil per sektor. Penjualan pada peralatan informasi dan komunikasi tercatat mengalami kontraksi atau minus, sementara sektor sandang serta perlengkapan rumah tangga hanya tumbuh tipis di bawah ekspektasi.

Saat ini, masyarakat lebih fokus mengalokasikan dana mereka untuk kebutuhan primer seperti makanan, minuman, dan tembakau yang tetap bertahan di zona positif. Hal ini mengindikasikan adanya pergeseran prioritas dari gaya hidup menuju pemenuhan kebutuhan dasar atau konsumsi perut.

Artikel terkait

Rekomendasi