Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) melakukan evaluasi total terhadap sistem keselamatan PT KAI menyusul insiden kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026. Peristiwa maut tersebut melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line.
CEO Danantara, Rosan Roeslani, menyatakan keprihatinan mendalam atas tragedi yang terjadi di wilayah Jawa Barat tersebut. Pihaknya berkomitmen untuk meninjau kembali seluruh prosedur operasional guna mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.
"Tentunya kita akan melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap, terutama, keselamatan segala sistem yang ada, dan memang kita selalu mengevaluasi secara menyeluruh lah gitu ya," ujar Rosan Roeslani, CEO Danantara.
Rosan menegaskan bahwa fokus utama lembaga yang dipimpinnya adalah menjamin aspek keamanan bagi seluruh pengguna transportasi publik. Langkah ini diambil guna meningkatkan standar layanan transportasi massal nasional yang dikelola oleh badan usaha milik negara.
Di sisi lain, COO Danantara sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria mengungkapkan bahwa rencana perbaikan infrastruktur sebenarnya telah diagendakan dalam program kerja tahun ini. Danantara menargetkan pembenahan pada 1.800 lintasan kereta api di seluruh Indonesia, termasuk pengadaan pintu pengaman di titik-titik rawan.
"Apalagi dengan kejadian ini kita melakukan evaluasi total terhadap keamanan daripada transportasi massal kita. Dan itu Bapak Presiden menyampaikan akan ada tambahan untuk keseluruhan dari proses keamanan, dan juga kita akan evaluasi," kata Dony Oskaria, COO Danantara.
Selain infrastruktur fisik, manajemen internal PT KAI juga menjadi objek pemeriksaan tim evaluasi. Dony menjelaskan bahwa pihaknya sedang mendalami berbagai kemungkinan penyebab kecelakaan, baik dari sisi teknis maupun faktor pendukung lainnya.
"Itu akan kita evaluasi juga bagaimana penyebab, efek, apakah ada unsur dan lain lain, kita tunggu hasil dari pada KNKT itu akan kita jadikan sebagai bahan untuk evaluasi daripada manajemen kita," pungkas Dony Oskaria, COO Danantara.
Data dari Polda Metro Jaya sebagaimana dilansir dari Suara menunjukkan skala fatalitas dari tabrakan dua rangkaian kereta tersebut. Sebanyak 15 orang dilaporkan meninggal dunia dan 76 penumpang lainnya menderita luka-luka akibat benturan keras di lokasi kejadian.
"10 jenazah di RS Polri, 3 jenazah di RSUD Bekasi, satu jenazah di RSU Bella, satu jenazah di RS Mitra Keluarga," kata Kombes Pol Budi Hermanto, Kabid Humas Polda Metro Jaya.
Pihak kepolisian masih berkoordinasi dengan tim medis untuk memantau kondisi puluhan korban luka yang tersebar di beberapa rumah sakit. Sementara itu, Danantara tetap menunggu hasil investigasi resmi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sebelum mengambil langkah strategis terhadap manajemen perkeretaapian.