Konflik bersenjata yang melibatkan Iran menyebabkan sektor pertanian di Mesir mengalami krisis akibat lonjakan tajam harga pupuk serta energi yang tidak terkendali. Kondisi ini memaksa para petani kecil melakukan efisiensi ekstrem dengan mengurangi jumlah tenaga kerja dan mempersempit luas lahan garapan.
Ashraf Abu Ragab, seorang petani di desa Nazlet Al-Shobak yang berjarak 50 kilometer dari Kairo, kini harus mengelola lahannya sendirian. Sebagaimana dilansir dari Media Indonesia, luas lahan yang ia garap kini berkurang hingga setengah dari ukuran semula akibat biaya operasional yang membengkak.
"Semua menjadi lebih mahal," ujar Abu Ragab, Petani. "Pupuk, benih, bahan kimia. Hasil panen tidak lagi mampu menutup biaya produksi."
Kenaikan biaya produksi tersebut tercatat mencapai hampir dua kali lipat sejak pecahnya perang. Akibatnya, Abu Ragab memutuskan untuk menghentikan penanaman gandum karena komoditas tersebut membutuhkan asupan pupuk yang sangat intensif dan mahal.
"Dulu saya punya tiga pekerja. Sekarang saya bekerja dengan tangan saya sendiri," keluh Abu Ragab, Petani.
Krisis ini dipicu oleh gangguan logistik di Selat Hormuz yang merupakan jalur distribusi vital bagi sepertiga perdagangan pupuk dunia. Selain pupuk, jalur tersebut juga melayani pengiriman seperlima gas alam cair (LNG) serta 35 persen pasokan minyak mentah global.
Kepala ekonom Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Maximo Torero, memberikan peringatan mengenai dampak serius dari terganggunya jalur distribusi kritis tersebut. Ia menilai petani kini berada dalam posisi yang sangat sulit untuk menentukan keberlangsungan produktivitas lahan mereka.
"Petani harus membuat pilihan sulit: menggunakan lebih sedikit input, mengganti jenis tanaman, atau mengurangi irigasi. Semuanya akan menurunkan hasil panen," jelas Torero, Kepala Ekonom FAO.
Kondisi di Mesir diperparah dengan melemahnya nilai tukar mata uang pound sebesar 15 persen terhadap dolar AS serta kenaikan harga bahan bakar hingga 30 persen pada Maret 2026. Hal ini menciptakan ketimpangan karena produsen pupuk domestik lebih memprioritaskan pasar ekspor yang menawarkan keuntungan lebih tinggi.
| Komoditas/Input | Kondisi Saat Ini |
|---|---|
| Pupuk Urea Granular | Naik menjadi US$700-US$750 per ton (dari sebelumnya US$400) |
| Bahan Bakar | Naik hingga 30% (per Maret) |
| Mata Uang Pound Mesir | Melemah sekitar 15% terhadap dolar |
Nader Nour Eldeen, seorang profesor pertanian dari Universitas Kairo, menyoroti adanya jurang perbedaan nasib antara perusahaan besar dengan petani mandiri. Perusahaan pupuk besar dilaporkan meraup laba berlipat ganda di tengah kesulitan yang dialami rakyat kecil.
"Produsen bisa mengekspor atau menaikkan harga, tetapi petani kecil tidak memiliki fleksibilitas itu," kata Eldeen, Profesor Pertanian Universitas Kairo.
Ketua Serikat Petani, Hussein Abu Saddam, memproyeksikan terjadinya penurunan produksi komoditas pangan utama jika biaya produksi tetap bertengger di angka yang tinggi. Ancaman ini sangat serius mengingat Mesir sangat bergantung pada impor gandum untuk mendukung program subsidi roti nasional.
"Jika harga tetap seperti ini, banyak petani tidak akan sanggup melanjutkan usahanya," tutup Abu Saddam, Ketua Serikat Petani.