Praktik judi online kini bertransformasi menjadi persoalan sosial serius yang memicu kehancuran banyak rumah tangga melalui keterikatan dengan layanan pinjaman online. Fenomena ini diperparah dengan temuan markas judi internasional di Jakarta Barat oleh Polri pada Senin (11/5/2026), sebagaimana dilansir dari Nasional.
Anggota Komisi III DPR RI, Abdullah, menegaskan bahwa penanganan masalah ini harus menjadi prioritas utama bagi seluruh pihak demi menyelamatkan masa depan bangsa.
ÔÇ£Judi online telah merusak banyak keluarga, menimbulkan persoalan sosial, dan mengancam masa depan generasi muda. Karena itu, pemberantasannya harus menjadi prioritas bersama,ÔÇØ kata Abdullah, Anggota Komisi III DPR RI.
Psikolog Anak dan Keluarga, Mira Damayanti Amir, menjelaskan bahwa banyak pasiennya yang terjerat pinjaman online setelah mengalami kecanduan judi. Fenomena ini menyasar berbagai lapisan masyarakat, termasuk kelompok berpendidikan sarjana.
ÔÇ£Porak-poranda kalau buat keluarga, ya. Jadi judol ini akhirnya nanti ke pinjol (pinjaman online). Ini saya saat bersamaan, nih, saya menangani 2-3 kasus, lah, intensif tentang korban judol seperti ini,ÔÇØ kata Mira Damayanti Amir, Psikolog Anak dan Keluarga.
Mira menambahkan bahwa keterpajakan terhadap permainan untung-untungan seringkali dimulai sejak usia sekolah dasar melalui praktik di sekitar lingkungan sekolah.
ÔÇ£Salah satu yang signifikan mengatakan bahwa dia mulainya tuh dari ini, dia senang game. Jadi dari zaman sekolah, kuliah, dia memang menghabiskan waktu yang cukup signifikan bermain game. Jadi ada unsur game-nya yang menarik untuk diikuti,ÔÇØ tutur Mira Damayanti Amir, Psikolog Anak dan Keluarga.
Kecanduan ini diperkuat dengan stimulasi endorfin dari kejutan hadiah, yang menurut Mira sengaja dirancang oleh produsen untuk memikat kontrol perilaku pengguna.
ÔÇ£Hadiahnya mungkin hadiah kecil-kecil ya, tapi itu akhirnya menstimulasi endorfin, senang dapat kejutan. Produsen judol ini pintar mengamati perilaku, bahkan mulai dari anak-anak. Apa sih yang bisa bikin mereka terpikat? Nah, ketika dia buka (aplikasi judol), ternyata kemampuan untuk kontrol perilaku tersebut enggak terbentuk sempurna,ÔÇØ jelas Mira Damayanti Amir, Psikolog Anak dan Keluarga.
Korban seringkali memilih pinjaman online karena merasa malu meminta bantuan keluarga, sehingga terjebak dalam utang yang mencapai ratusan juta rupiah.
ÔÇ£Bukan Rp 1-2 juta, puluhan juta minimal, bahkan ratusan juta. Jadi akhirnya secara sosial mereka kacau, karena akhirnya meminjam sana-sini. Di kantor meminjam sana-sini, ke atasannya, rekan kerja, siapa saja yang dia kenal. Dari mulai Rp 1 juta, Rp 5 juta, puluhan juta, tergantung siapa yang dipinjami,ÔÇØ tutur Mira Damayanti Amir, Psikolog Anak dan Keluarga.
Mira menyebutkan bahwa proses pemulihan biasanya menunjukkan arah positif setelah korban berani terbuka kepada pasangannya masing-masing.
ÔÇ£Sebelum mengaku, mereka biasanya larinya ke kami dulu, profesional, ke psikolog dulu. Karena mengalami kebingungan ataupun ketakutan, bagaimana mengungkapkan ke pasangannya,ÔÇØ ujar Mira Damayanti Amir, Psikolog Anak dan Keluarga.
Dukungan dari pasangan menjadi kunci penting dalam memecahkan masalah keuangan dan psikologis yang dialami korban.
ÔÇ£Biasanya yang saya dapati, ketika mereka sudah terbuka ke pasangannya, itu arah pemulihannya sudah positif. Saya dapati pasangannya mampu bersama memberikan jalan keluar, minimal menerima pasangannya, meyakinkan bahwa, ÔÇÿoke ini adalah masalah, mari kita pecahkan bersama,ÔÇØ sambung Mira Damayanti Amir, Psikolog Anak dan Keluarga.
Sosiolog UNJ, Rakhmat Hidayat, menilai ada hubungan timbal balik antara perubahan budaya digital dengan tekanan ekonomi yang memicu perilaku masyarakat perkotaan.
"Jadi saya melihat bahwa fenomena keterkaitan antara judi online dan pinjaman online atau pinjol itu dapat dijelaskan secara sosiologi, sebagai hubungan antara perubahan budaya digital, tekanan sosial ekonomi, serta pola perilaku masyarakat perkotaan," kata Rakhmat Hidayat, Sosiolog Universitas Negeri Jakarta.
Rakhmat menyoroti fenomena pelarian ke judi bukan karena kemiskinan, melainkan akibat gamifikasi yang mengaburkan batas hiburan dan perjudian.
"Ketika seorang mulai mengalami kekalahan, muncul fenomena yang dalam sosiologi perilaku disebut sebagai loss chasing, yaitu dorongan untuk terus bermain demi menutupi kerugian sebelumnya. Di siniilah pinjol masuk sebenarnya sebagai instrumen pendukung," beber Rakhmat Hidayat, Sosiolog Universitas Negeri Jakarta.
Konstruksi sosial yang dibentuk oleh iklan masif menciptakan ilusi bahwa kemenangan besar dan pinjaman instan adalah hal normal dalam kehidupan sehari-hari.
"Hal ini menciptakan ilusi bahwa kemenangan besar atau pinjaman cepat adalah sesuatu yang normal dan mudah dicapai. Dalam teori konstruksi sosial, realitas digital semacam ini perlahan membentuk persepsi masyarakat bahwa praktik tersebut merupakan bagian biasa dari kehidupan sehari-hari," jelas Rakhmat Hidayat, Sosiolog Universitas Negeri Jakarta.
Pakar parenting Novita Tandry menegaskan pentingnya literasi digital dan ketahanan mental sebagai fondasi utama bangsa menuju Indonesia Emas 2045.
"Masa depan Indonesia Emas 2045 tidak hanya bergantung pada kecerdasan akademik, tetapi juga pada kesehatan mental, karakter, dan ketahanan keluarga sebagai fondasi utama bangsa," ujar Novita Tandry, Pakar Parenting.
Sementara itu, pakar keamanan siber Alfons Tanujaya mengingatkan bahwa pemerintah perlu mengambil langkah tegas jangka pendek melalui penegakan hukum terhadap operator.
"Kamu enggak mungkin bisa lakukan literasi digital dan literasi finansial dalam jangka pendek, itu program 5 tahun, 10 tahun. Jadi itu solusi jangka panjang," tegas Alfons Tanujaya, Pakar Keamanan Siber.
Alfons menyarankan agar pemblokiran dilakukan langsung pada server aplikasi, bukan sekadar memblokir iklan di media sosial.
"Jangan ngeblok iklannya, itu kurang pintar, gitu loh. Jadi yang diblok itu server-nya," tekan Alfons Tanujaya, Pakar Keamanan Siber.
Ia merinci teknis pelacakan melalui nomor rekening deposit yang digunakan operator untuk kemudian memproses hukum pemilik identitas yang terdaftar.
"(Saat mau setor depo), Maka akan dikasih nomor rekeningnya. Habis itu nomor rekening disetor uangnya, akan dikasih IP untuk server-nya atau aplikasinya. Dari situ diblok itu IP server-nya, bukan IP iklannya," tegas Alfons Tanujaya, Pakar Keamanan Siber.
Tindakan tegas juga harus menyasar pihak bank jika ditemukan penggunaan identitas palsu dalam pembukaan rekening yang digunakan untuk menampung dana judi.
"Kalau (identitas) asli, orangnya diproses, kenapa bisa buat judi online. Kalau KTP palsu, banknya diproses. Kenapa ini KTP palsu kok bisa buka rekening di sini. Lalu nomor rekening WA yang dilakukan untuk judi online itu kasih ke kepolisian, dilacak orangnya di mana, tangkap dan kembangkan," tandas Alfons Tanujaya, Pakar Keamanan Siber.