Cuaca Panas Ekstrem Berpotensi Picu Ratusan Ribu Kematian Dini pada 2050

Cuaca Panas Ekstrem Berpotensi Picu Ratusan Ribu Kematian Dini pada 2050
Foto: Ilustrasi Cuaca Panas Ekstrem Berpotensi Picu Ratusan Ribu Kematian Dini pada 2050.

Sebuah riset terbaru mengungkapkan bahwa lonjakan suhu panas yang ekstrem berpotensi membuat jutaan orang dewasa global menjadi kurang aktif bergerak pada tahun 2050. Dampak dari fenomena tersebut diperkirakan dapat memicu penambahan hampir 700.000 kasus kematian dini di setiap tahunnya.

Kondisi perubahan iklim global terbukti tidak sekadar berdampak pada kerusakan lingkungan, seperti dikutip dari Lestari. Fenomena ini juga mengganggu pola hidup masyarakat akibat keterbatasan akses terhadap area yang teduh serta ruangan dengan pendingin udara yang memadai.

Penelitian di 156 negara memperlihatkan bahwa bulan-bulan dengan temperatur yang tergolong tidak wajar selalu beriringan dengan penurunan aktivitas fisik penduduk di bawah standar kesehatan. Christian García-Witulski, Ph.D., dari Pontifical Catholic University of Argentina (UCA), memverifikasi data tersebut melalui perbandingan periode suhu panas dan sejuk.

Penambahan satu bulan dengan suhu di atas 28 derajat Celsius memicu kenaikan jumlah populasi yang kurang bergerak sebesar 1,44 persen di tingkat global. Sementara itu, persentase kemalasan bergerak di negara-negara miskin melonjak lebih tinggi hingga mencapai 1,85 persen.

Data ini menggeser persepsi publik yang awalnya menganggap cuaca panas hanya sebagai pemicu ketidaknyamanan harian. Kini, suhu ekstrem disadari menjadi faktor krusial yang mengubah cara manusia bermobilitas, berolahraga, hingga menjalankan pekerjaan mereka sehari-hari.

Pada tahun 2050, proyeksi penduduk yang tidak aktif bergerak diperkirakan naik sebesar 0,98 persen jika polusi udara berhasil ditekan. Namun, angka kemalasan bergerak tersebut diprediksi melonjak hingga 1,75 persen apabila bumi terus berada dalam jalur pemanasan yang paling parah.

Wilayah-wilayah di sekitar garis khatulistiwa, seperti Amerika Tengah, Karibia, Afrika sub-Sahara bagian timur, dan Asia Tenggara, menjadi kawasan dengan risiko lonjakan tertinggi. Sebaliknya, wilayah seperti Belgia dan Finlandia terpantau hampir tidak mengalami perubahan perilaku mobilitas.

Ketimpangan Sosial dan Fasilitas Pendingin

Distribusi suhu panas tidak merata di seluruh dunia, sehingga area dengan tingkat kesejahteraan rendah menanggung beban yang lebih berat. Keterbatasan dana membuat masyarakat miskin kesulitan mengakses pendingin ruangan (AC) dan fasilitas ruangan tertutup yang aman dari sengatan panas.

Minimnya vegetasi peneduh, kendala operasional AC, serta fleksibilitas jam kerja yang rendah merampas kesempatan warga untuk berjalan kaki atau bersepeda.

"Ini bukan hanya cerita tentang iklim, tetapi juga cerita tentang ketimpangan sosial," kata García-Witulski.

Dampak Finansial Akibat Penurunan Produktivitas

Menurunnya aktivitas fisik masyarakat turut memberikan dampak negatif bagi sektor perekonomian global. Angka kesakitan serta kematian dini secara langsung memangkas total akumulasi jam kerja produktif para buruh.

Riset pada tahun 2013 mencatat bahwa kerugian produktivitas akibat fenomena malas bergerak telah mencapai 13,7 miliar dolar AS di 142 negara. Pada 2050, kelangkaan aktivitas fisik akibat suhu panas diproyeksikan menambah beban ekonomi dunia sebesar 2,40 miliar hingga 3,68 miliar dolar AS per tahun.

Secara terpisah, Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) memberikan peringatan bahwa suhu panas ekstrem berisiko memperlambat ritme kerja buruh atau bahkan menghentikan operasional pekerjaan secara total.

Pemerintah kota disarankan untuk mulai mengkategorikan tempat berteduh, akses air bersih, dan ruang ber-AC sebagai fasilitas kesehatan utama. Infrastruktur kota yang ramah suhu panas dapat dirancang dengan mendinginkan taman serta jalanan demi menjamin keamanan warga saat beraktivitas luar ruangan.

Penyediaan area olahraga dalam ruangan dengan tarif terjangkau juga menjadi solusi krusial ketika jalur luar ruangan sudah terpapar bahaya panas ekstrem.

"Secara praktis, kebijakan aktivitas fisik yang tahan iklim adalah kebijakan yang membantu masyarakat untuk tetap bisa aktif bergerak dengan aman, bahkan dalam kondisi cuaca yang lebih panas," kata García-Witulski.

Artikel terkait

Rekomendasi