Cholil Nafis Imbau Jemaah Haji Indonesia Jaga Stamina dan Hindari Flexing

Cholil Nafis Imbau Jemaah Haji Indonesia Jaga Stamina dan Hindari Flexing
Foto: Ilustrasi Cholil Nafis Imbau Jemaah Haji Indonesia Jaga Stamina dan Hindari Flexing.

Ketua Musyrif Diny KH Cholil Nafis mengimbau jemaah haji Indonesia agar tidak terjebak dalam euforia "haji mumpung" selama masa tunggu menjelang puncak ibadah haji. Langkah ini penting untuk menjaga kondisi tubuh jemaah sebelum memasuki fase kritis di Arafah, Muzdalifah, dan Mina atau Armuzna, seperti dilansir dari Cahaya.

Para jemaah diminta membatasi aktivitas fisik yang kurang mendesak, seperti jalan-jalan atau ziarah yang dapat menguras energi. Menurut Cholil, ibadah haji memerlukan kekuatan fisik yang prima sehingga persiapan stamina harus menjadi prioritas utama sejak berada di Makkah.

Masa tunggu menjelang Armuzna sebaiknya digunakan jemaah untuk mengendalikan aktivitas luar ruangan. Penegasan tersebut bertujuan agar tenaga tidak terbuang sia-sia untuk kegiatan yang tidak berkaitan langsung dengan persiapan ibadah utama.

"Pertama, kita jangan 'haji mumpung' ketika dalam masa menunggu ini. Jangan sampai tenaga sepenuhnya digunakan untuk hal-hal yang apalagi hanya main-main atau jalan-jalan. Itu dikendali dulu. Tolong fokus kepada penyiapan stamina karena nanti haji membutuhkan fisik yang kuat," ujar KH Cholil Nafis di Makkah, dilansir dari laman MUI, Minggu (24/5/2026).

Jemaah diharapkan mulai mengatur ritme aktivitas harian mereka agar kondisi kesehatan tetap prima saat menjalani seluruh rangkaian ibadah di Armuzna.

Sebagai pengganti kegiatan ziarah yang melelahkan, Cholil menyarankan jemaah untuk memperbanyak amalan ibadah di dalam hotel atau ruang penginapan. Wakil Ketua Umum MUI tersebut mengajak jemaah fokus pada aktivitas zikir dan iktikaf sesuai batas kemampuan fisik masing-masing.

"Jika kondisi fisik tidak memungkinkan, jamaah tidak perlu memaksakan diri setiap waktu shalat harus ke Masjidil Haram. Allah SWT Maha Mengetahui niat baik setiap hamba-Nya," kata Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat.

Jemaah juga diimbau untuk mengonsumsi makanan yang bergizi serta memastikan waktu istirahat terpenuhi dengan cukup. Persiapan fisik yang matang dinilai menjadi kunci agar jemaah bisa melewati puncak haji dengan tenang dan kuat.

Larangan Penggunaan Kamera untuk Pamer

Selain masalah stamina, Cholil memberikan perhatian khusus terkait penggunaan ponsel berkamera oleh jemaah di Tanah Suci. Ketua Badan Pengurus DSN MUI itu mengingatkan jemaah untuk berhati-hati saat merekam agar tidak melanggar privasi orang lain.

CEO Amanah Zakat tersebut juga melarang jemaah membuat konten iklan di area depan Masjidil Haram. Secara spesifik, Cholil meminta agar kamera ponsel tidak dimanfaatkan untuk kepentingan pamer atau flexing di media sosial.

"Jangan sampai kita ini me-shooting untuk kepentingan flexing atau untuk pamer. Karena itu akan menghilangkan pahala-pahala ibadahnya atau dapat menjauhkan dari kemabruran hajinya karena akan menimbulkan rasa riya," tegasnya.

Tiga Karakteristik Jemaah Haji

Dalam kesempatan tersebut, Cholil memetakan tiga tipe jemaah haji yang perlu menjadi bahan renungan bersama. Tipe pertama adalah jemaah yang pamer, yaitu mereka yang berhaji sekadar mencari pengakuan sosial serta gaya-gayaan. Ulama kelahiran Sampang, Madura, Jawa Timur ini menegaskan kelompok ini tidak mendapat apresiasi dari Allah SWT.

Tipe kedua dinamakan tipe rekreasi, di mana jemaah memandang ibadah haji layaknya perjalanan wisata untuk bersenang-senang semata.

"Tipe ini tidak akan mendapatkan keutamaan haji yang maksimal," kata ulama kelahiran Sampang, Madura, Jawa Timur.

Tipe ketiga merupakan jemaah yang hadir semata-mata demi mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kelompok ini bersikap tunduk dan taat sepenuhnya walaupun harus mengeluarkan biaya besar sekaligus menguras energi fisik. Cholil berharap karakteristik tipe ketiga ini tertanam pada seluruh jemaah haji asal Indonesia.

Cholil mendoakan agar seluruh jemaah haji Indonesia mendapatkan kelancaran dalam menjalani ibadah serta meraih ampunan-Nya. Ia berharap jemaah tahun ini mampu meneladani para ulama terdahulu yang menjadikan momentum haji sebagai titik balik perubahan.

"Seperti pada para ulama terdahulu, berangkat haji itu pulangnya bisa bikin perubahan terhadap diri sendiri, bahkan bisa membangun peradaban. Dan itu dilakukan by para jamaah haji Indonesia pada saat itu sebelum kemederkaan, sehingga bisa melahirkan kemerdekaan dari para ulama atau jamaah yang berangkat haji pada saat itu," kata dia.

Artikel terkait

Rekomendasi