Fasilitas perakitan kendaraan milik BYD Indonesia di Subang, Jawa Barat, kini telah mencapai tahap akhir pembangunan guna mendukung operasional dalam waktu dekat. Informasi mengenai perkembangan infrastruktur manufaktur tersebut disampaikan pada Selasa (13/5/2026) di Bogor, Jawa Barat.
Head of Marketing, PR & Government BYD Indonesia, Luther Pandjaitan, menjelaskan bahwa proses finalisasi saat ini sangat krusial untuk memenuhi regulasi operasional. Sebagaimana dilansir dari Otomotif, perusahaan mengincar kapasitas produksi mencapai 150.000 unit kendaraan setiap tahunnya.
"Secara spesifik saya belum bisa menyampaikan kapan mulai beroperasi. Namun, saat ini proses pembangunan memang sudah memasuki tahap akhir. Tahap ini sangat penting karena berkaitan dengan aspek compliance terhadap operasional pabrik," ujar Luther Pandjaitan, Head of Marketing, PR & Government BYD Indonesia.
Manajemen menegaskan komitmen untuk menjaga standar kualitas global pada setiap unit yang akan dirakit secara lokal di fasilitas tersebut.
"Finalisasi ini tidak bisa dilakukan sembarangan. Kami harus memastikan setiap produk yang dihasilkan sesuai dengan standar dan kualitas BYD," kata Luther Pandjaitan.
Meskipun belum memberikan tanggal pasti pembukaan, pihak BYD menyatakan keinginan untuk memulai aktivitas produksi segera setelah seluruh persyaratan terpenuhi.
"Tetapi secara prinsip, kami tentu ingin secepat mungkin," ujarnya.
Strategi produksi di pabrik Subang nantinya akan menitikberatkan pada jenis kendaraan yang memiliki tingkat permintaan paling tinggi di pasar otomotif nasional.
"Secara prinsip, manufaktur akan menyesuaikan dengan market yang paling dominan dan signifikan. Saat ini, Atto 1 dan M6 memang menjadi line-up yang paling diminati masyarakat Indonesia," kata Luther Pandjaitan.
Saat ini, BYD telah memasarkan berbagai lini produk di Indonesia mulai dari model Dolphin, Atto 3, Seal, Sealion, M6, hingga Atto 1. Selain itu, perusahaan juga mengisi segmen MPV premium melalui kehadiran Denza D9.