Budi Arie Imbau Pendukung Tidak Mengadu Domba Tokoh Bangsa

Budi Arie Imbau Pendukung Tidak Mengadu Domba Tokoh Bangsa
Foto: Ilustrasi Budi Arie Imbau Pendukung Tidak Mengadu Domba Tokoh Bangsa.

Ketua Umum Relawan Projo, Budi Arie Setiadi, memberikan peringatan agar seluruh pihak berhenti melakukan aksi adu domba terhadap para tokoh bangsa pada Kamis (23/4/2026) malam. Seruan ini muncul setelah merebaknya perdebatan di media sosial mengenai kontribusi tokoh tertentu dalam perjalanan karier politik Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.

Dilansir dari Kompas, penegasan tersebut menanggapi munculnya istilah tertentu di platform digital yang dinilai dapat memecah belah hubungan antar-pemimpin. Budi Arie menjelaskan bahwa basis pendukung Jokowi yang sangat besar memiliki cara berekspresi yang berbeda-beda dalam menunjukkan loyalitas mereka.

"Gini loh, saya gak mau menyalahkan teman-teman. Gini loh, pendukung Pak Jokowi ini banyak, baik yang terorganisir maupun yang pribadi-pribadi, yang ekspresinya masing-masing karena kecintaan terhadap Pak Jokowi," kata Budi Arie, Ketua Umum Projo.

Aksi reaktif dari para pendukung tersebut dipandang sebagai bentuk pembelaan ketika sosok Jokowi mendapatkan kritik atau hinaan dari pihak luar. Meski demikian, Budi tetap menekankan pentingnya menjaga kondusivitas ruang publik demi kepentingan nasional yang lebih besar.

"Tetapi maksud saya, saya juga hormatin pikiran dan pendapat teman-teman, di forum ini saya mau imbau, udahlah, jangan kita mengadu domba sesama pemimpin bangsa, tokoh-tokoh bangsa," kata Budi Arie.

Mantan Menteri Komunikasi dan Informatika tersebut mengaku telah menjalin komunikasi dengan beberapa kelompok pendukung untuk meredam tensi. Ia menilai mempertentangkan perbedaan pandangan yang tidak substansial hanya akan menghambat penyelesaian berbagai persoalan negara.

"Beberapa saya sudah sampaikan, dan di forum ini saya ingin sampaikan sekali lagi, nggak ada gunanya juga, ngapain sih, urusan republik ini masih banyak yang harus kita beresin. Kan sesuatu yang tidak berbeda kenapa mesti kita pertentangkan," tambah Budi Arie.

Ketegangan ini bermula dari pernyataan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), dalam sebuah konferensi pers baru-baru ini. JK mengeklaim bahwa dirinya memiliki peran krusial dalam membawa Jokowi ke panggung politik nasional melalui kontestasi Pilkada DKI Jakarta.

"Jokowi jadi Presiden karena saya. Kan tanpa (maju menjadi) gubernur, mana bisa jadi Presiden? Saya yang bantu Jokowi. Boleh tanya sama beliau," kata Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI.

Juru Bicara Jusuf Kalla, Husain Abdullah, memberikan klarifikasi bahwa pernyataan tersebut dilontarkan karena JK merasa disudutkan oleh opini publik. Sejumlah pihak di media sosial menuding JK tidak memiliki rasa terima kasih kepada Jokowi, sehingga ia merasa perlu meluruskan fakta sejarah versi dirinya.

"Sebetulnya beliau ingin menyampaikan suatu pesan yang kuat, atau meyakinkan publik bahwa selama ini kan dia kesannya merasa dipojokkan, seolah-olah tidak berterima kasih pada Pak Jokowi, atau tidak tahu berbalas budi," kata Husain Abdullah, Juru Bicara Jusuf Kalla.

Husain menambahkan bahwa reaksi yang muncul di tataran media sosial seringkali berasal dari pendukung yang tidak teridentifikasi organisasinya. Namun, ia memastikan bahwa saat ini duduk perkara mengenai pernyataan JK tersebut sudah disampaikan secara terbuka kepada masyarakat luas.

"Sehingga muncullah macam-macam ini, tapi itu di tataran sosial media terutama, atau pendukung-pendukung yang kita tidak tahu apakah terorganisir atau tidak," lanjut Husain Abdullah.

Pihak JK menganggap persoalan ini telah selesai karena pesan mengenai posisi sejarah JK telah tersampaikan kepada publik, termasuk kepada para relawan. Husain juga mengapresiasi pernyataan Budi Arie yang mengajak semua pihak untuk berhenti berselisih.

"Ya, saya kira semua sudah jelas juga, clear dan Pak JK sudah menyampaikan, sudah mengeluarkan apa yang harus diketahui secara publik oleh semua kita, termasuk pendukung-pendukung Pak Jokowi tadi, supaya paham posisinya Pak JK bahwa ÔÇÿKurang apa saya IniÔÇÖ, kok digituin lagi," beber Husain Abdullah.

Pertemuan narasi antara pihak Projo dan pihak Jusuf Kalla diharapkan dapat mengakhiri polemik di media sosial. Husain menilai imbauan dari kedua belah pihak sudah cukup untuk menenangkan situasi politik yang sempat menghangat.

"Nah itu saya kira sudah nyampe dan Pak Budi Arie juga sudah mengemukakan bahwa untuk apa sih kita ribut-ribut ini, Iya kan. Jadi saya rasa barang ini sudah ketemu," tambah Husain Abdullah.

Artikel terkait

Rekomendasi