BTN dan KAI Bangun 5.000 Unit Apartemen Murah Berbasis TOD di Jakarta

BTN dan KAI Bangun 5.000 Unit Apartemen Murah Berbasis TOD di Jakarta
Foto: Ilustrasi BTN dan KAI Bangun 5.000 Unit Apartemen Murah Berbasis TOD di Jakarta.

Pemerintah Indonesia tengah gencar mendorong peralihan ke hunian vertikal di area perkotaan demi mengatasi masalah defisit perumahan yang kronis. Seperti dilansir dari Investortrust, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN (BBTN) menjalin kerja sama strategis dengan Sekretariat Kabinet dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI) untuk menyulap koridor jalur kereta api di Jakarta menjadi pusat hunian vertikal yang padat dan terjangkau.

Langkah ini menandai pergeseran besar dalam strategi real estat di Jakarta, dari perluasan lahan horizontal beralih ke konsep Transit-Oriented Development (TOD). Dengan memanfaatkan lahan milik negara di dekat pusat transit seperti Stasiun Manggarai, proyek ini bertujuan memangkas biaya transportasi bagi masyarakat berpenghasilan rendah sekaligus mengatasi krisis kawasan kumuh perkotaan.

Bagi para investor, inisiatif ini menjadi sinyal adanya mobilisasi besar-besaran sumber daya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ke segmen properti kelas pekerja. Hal tersebut sekaligus menciptakan pasar pembiayaan kepemilikan rumah yang sangat besar bagi BTN, yang bertindak sebagai penyedia pembiayaan untuk 5.000 unit hunian baru di lokasi-lokasi strategis metropolitan.

Kebijakan ini diambil setelah Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan lapangan ke permukiman kumuh di sepanjang jalur kereta api Senen. Setelah melihat kondisi kehidupan yang dinilai tidak layak di lokasi tersebut, Presiden segera menginstruksikan adanya intervensi nyata.

"We are reporting on a mutual agreement [with KAI] following the PresidentÔÇÖs visit to Senen,"

ujar Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, dalam konferensi pers yang dikutip dari Investortrust pada hari Kamis.

Proyek pembangunan ini nantinya akan difokuskan di beberapa titik strategis, termasuk Manggarai, Tanah Abang, dan Kampung Bandan. Khusus di kawasan Manggarai, rencana pembangunan mencakup delapan menara yang akan menampung sekitar 5.000 unit apartemen dengan harga terjangkau.

Ukuran Unit Lebih Luas dengan Harga Lebih Rendah

Berbeda dengan tren rumah subsidi tipe studio yang marak di pasaran, BTN mendorong standar hunian yang lebih tinggi bagi keluarga. Nixon meminta ukuran unit yang dibangun berkisar antara 40 hingga 54 meter persegi (430 hingga 581 kaki persegi), jauh lebih luas dibandingkan apartemen mikro tipe 21 meter persegi yang banyak beredar saat ini.

"I always complain to developers: why build 21-square-meter apartments? ItÔÇÖs pitiful if someone has childrenÔÇöwhere are they supposed to sleep? So, we are striving for units over 40 square meters,"

kata Nixon.

Meskipun memiliki ukuran unit yang lebih lapang, BTN menegaskan bahwa harga apartemen ini akan tetap dijaga agar jauh lebih murah daripada apartemen biasa di Jakarta. Hal ini dilakukan demi memastikan hunian tersebut tepat sasaran dan terjangkau bagi pembeli rumah pertama.

Adopsi Konsep Global pada Jalur Kereta Lokal

Proyek ini tidak melibatkan pengembang perumahan negara Perumnas karena dinamika penggunaan lahan. Kondisi tersebut menempatkan unit bisnis properti milik KAI sebagai pimpinan dalam proses konstruksi, sementara BTN bertindak sebagai tulang punggung pembiayaan.

Permintaan terhadap hunian ini diperkirakan akan sangat tinggi mengingat integrasi langsung dengan layanan Commuter Line (KRL), Light Rail Transit (LRT), dan kereta api jarak jauh. Nixon menyebutkan bahwa model integrasi stasiun dan perumahan ini nantinya akan direplikasi di kota-kota besar Indonesia lainnya, termasuk Surabaya, Bandung, dan Semarang.

"I recently visited Kyoto, where the train station and housing are integrated as one; itÔÇÖs completely normal. This isn't a new concept globally, and we are serious about doing this for the 5,000 people in Jakarta who still don't own a home,"

ujar Nixon.

Artikel terkait

Rekomendasi