Bond Stabilization Fund (BSF) diproyeksikan menjadi instrumen krusial dalam menyangga stabilitas pasar obligasi Indonesia guna mencegah lonjakan imbal hasil atau yield akibat kepanikan jangka pendek. Kehadiran dana stabilitas ini dinilai efektif saat pasar menghadapi tekanan teknis maupun kekeringan likuiditas pada Jumat (8/5/2026).
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai instrumen ini berperan penting sebagai pembeli siaga saat harga Surat Berharga Negara (SBN) mengalami tekanan jual yang signifikan. Berdasarkan data per 7 Mei 2026, yield SBN tenor 10 tahun terpantau stabil pada posisi 6,701 persen di tengah dinamika pasar.
"BSF dapat hadir sebagai pembeli penyangga ketika harga SBN turun, sehingga yield tidak melonjak liar," ujar Syafruddin kepada Kompas.com sebagaimana dilansir dari Money.
Syafruddin mencatat adanya penurunan credit default swap (CDS) Indonesia di berbagai tenor, yang menandakan bahwa risiko kredit domestik masih terjaga. Penurunan CDS tenor lima tahun mencapai 2,978 basis poin, sementara tenor 10 tahun turun 2,344 basis poin.
"Investor akan lebih percaya jika BSF memiliki mandat jelas: menjaga likuiditas SBN, mencegah dislokasi harga, dan menahan arus keluar modal yang dipicu capital loss," katanya.
Meski instrumen stabilitas tersebut sangat membantu, faktor eksternal seperti fluktuasi nilai tukar rupiah dan suku bunga global tetap menjadi perhatian utama pelaku pasar. Saat ini, nilai tukar rupiah berada di level Rp 17.370 per dollar AS dengan proyeksi depresiasi lanjutan di pasar derivatif.
"Forward USD/IDR tercatat berada di level 17.386 untuk tenor satu bulan dan 17.435 untuk tenor tiga bulan," katanya.
Analisis pasar menunjukkan bahwa pergerakan yield SBN hingga akhir tahun 2026 akan sangat bergantung pada disiplin fiskal pemerintah serta kebijakan Bank Indonesia. Syafruddin memprediksi imbal hasil tenor 10 tahun akan bergerak pada rentang 6,6 persen hingga 6,9 persen dalam skenario yang konstruktif.
"Yield akan ditentukan oleh kepercayaan pasar bahwa pemerintah dapat menjaga APBN tetap kredibel dan BI dapat menjaga rupiah tanpa menekan pertumbuhan secara berlebihan," ujarnya.
Peluang investasi di pasar obligasi saat ini dianggap masih menarik mengingat inflasi tahunan yang terkendali pada angka 2,42 persen. Tingginya yield saat ini justru dipandang sebagai kesempatan bagi investor baru untuk mendapatkan kupon yang lebih tinggi.
"Yield tinggi memang dapat menjadi peluang, tetapi peluang itu hanya layak diambil dengan disiplin risiko, horizon investasi jelas, dan keyakinan bahwa stabilitas makro tetap terjaga," kata Syafruddin.