BRIN Temukan Lima Logam Berat Cemari Sedimen Teluk Jakarta

BRIN Temukan Lima Logam Berat Cemari Sedimen Teluk Jakarta
Foto: Ilustrasi BRIN Temukan Lima Logam Berat Cemari Sedimen Teluk Jakarta.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengidentifikasi lima jenis logam berat yang mencemari sedimen dasar laut di Teluk Jakarta, yakni seng (Zn), tembaga (Cu), nikel (Ni), timbal (Pb), dan kadmium (Cd). Temuan ini dilaporkan pada Senin (11/5/2026) berdasarkan hasil penelitian terbaru.

Konsentrasi polutan tertinggi ditemukan pada wilayah pesisir yang berdekatan dengan area industri serta kawasan padat penduduk. Fenomena ini, sebagaimana dilansir dari Detik iNET, menunjukkan adanya pengaruh signifikan dari aktivitas manusia terhadap penurunan kualitas lingkungan perairan di kawasan tersebut.

Peneliti Pusat Riset Oseanografi BRIN, Idha Yulia Ikhsani, menjelaskan bahwa seng menjadi pencemar paling dominan setelah melalui berbagai analisis indeks lingkungan. Sejumlah lokasi di Teluk Jakarta bahkan menunjukkan kadar seng, timbal, dan tembaga yang telah melampaui ambang batas internasional.

"Kondisi ini berpotensi menimbulkan dampak terhadap ekosistem laut, terutama bagi organisme dasar perairan (bentik) yang hidup bersentuhan langsung dengan sedimen," kata Idha Yulia Ikhsani, Peneliti Pusat Riset Oseanografi BRIN.

Idha menambahkan bahwa tekanan lingkungan di Teluk Jakarta sangat serius akibat pesatnya urbanisasi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Kawasan ini memiliki peran strategis bagi sektor perikanan, transportasi, dan ekonomi nasional.

"Teluk Jakarta merupakan salah satu kawasan pesisir terpenting di Indonesia, baik dari sisi ekonomi, transportasi, perikanan, maupun pemukiman. Namun pesatnya urbanisasi dan industrialisasi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) telah memberikan tekanan besar terhadap kualitas lingkungannya," tutur Idha Yulia Ikhsani, Peneliti Pusat Riset Oseanografi BRIN.

Sedimen laut menjadi lokasi akumulasi limbah domestik, industri, serta residu dari aktivitas perkapalan di pelabuhan. Karena sifatnya yang sulit terurai, sedimen tersebut berisiko melepaskan kembali zat berbahaya ke kolom air dalam jangka waktu yang lama.

Peneliti Pusat Riset Oseanografi BRIN lainnya, Lestari, menggunakan metode Risk Assessment Code (RAC) untuk mengukur potensi penyerapan logam oleh biota laut. Hasil riset menunjukkan seng memiliki potensi tinggi untuk masuk ke dalam rantai makanan manusia.

"Logam berat yang terserap dapat terakumulasi dalam tubuh organisme laut, terutama kerang, kepiting, dan biota bentik lainnya. Jika organisme tersebut dikonsumsi manusia secara terus-menerus, logam berat dapat masuk ke dalam tubuh dan meningkatkan risiko kesehatan jangka panjang," jelas Lestari, Peneliti Pusat Riset Oseanografi BRIN.

Sementara itu, Periset Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Rachma Puspitasari, menyoroti risiko kesehatan spesifik dari konsumsi pangan laut. Ia menemukan adanya potensi bahaya non-karsinogenik akibat akumulasi kadmium pada jaringan kerang hijau.

"Karena itu, pencemaran logam berat tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan langsung dengan keamanan pangan masyarakat pesisir dan konsumen hasil laut," ungkap Rachma Puspitasari, Periset Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN.

Guna mengatasi kondisi ini, BRIN menekankan pentingnya pengawasan terpadu terhadap limbah industri dan domestik. Langkah-langkah strategis mencakup pengendalian kualitas sungai yang bermuara ke teluk serta pemberian edukasi kepada masyarakat mengenai keamanan konsumsi hasil laut.

Artikel terkait

Rekomendasi