BRIN Ungkap Potensi Besar Penemuan Berbagai Spesies Tumbuhan Baru

BRIN Ungkap Potensi Besar Penemuan Berbagai Spesies Tumbuhan Baru
Foto: Ilustrasi BRIN Ungkap Potensi Besar Penemuan Berbagai Spesies Tumbuhan Baru.

Kekayaan hayati di Indonesia masih menyimpan banyak rahasia yang belum sepenuhnya terungkap secara ilmiah. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan bahwa peluang menemukan berbagai spesies tumbuhan baru masih terbuka sangat lebar.

Seperti dikutip dari Media Indonesia, potensi penemuan tersebut mencakup tanaman jenis begonia, anggrek, hingga rafflesia. Kawasan hutan yang belum banyak terjamah eksplorasi menjadi target utama pencarian flora baru ini.

Deden Girmansyah selaku Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN menjelaskan bahwa keanekaragaman begonia di dalam negeri baru teridentifikasi sebagian kecil. Saat ini tercatat baru sekitar 243 spesies begonia yang ditemukan di Indonesia.

Padahal, jumlah total spesies begonia yang tersebar di seluruh dunia diperkirakan mencapai 2.000 spesies. Menurut Deden, wilayah Papua dan Kalimantan menjadi area yang paling potensial karena banyak kawasan yang belum dieksplorasi secara optimal.

ÔÇ£Di Papua misalnya, data yang ada baru mencatat dua spesies begonia, sementara Papua Nugini memiliki sekitar 69 spesies. Jadi kemungkinan masih banyak yang belum ditemukan,ÔÇØ katanya, Senin (26/5).

Deden memproyeksikan wilayah Kalimantan saja dapat menyimpan hingga ratusan spesies begonia. Kendati demikian, minimnya jumlah ahli taksonomi di dalam negeri kini menjadi tantangan berat untuk mengidentifikasi seluruh kekayaan biodiversitas tersebut.

Selain memiliki nilai ilmiah, tanaman begonia liar juga menyimpan potensi ekonomi yang menjanjikan. Tumbuhan ini banyak dicari sebagai tanaman hias karena keunikan bentuk dan warna daunnya, serta berkhasiat sebagai bahan obat tradisional.

Namun, kelestarian jenis flora tersebut kini dibayangi oleh kerusakan habitat yang masif di berbagai daerah.

ÔÇ£Kita berpacu dengan waktu, apakah spesies itu ditemukan lebih dulu atau justru hilang akibat kerusakan habitat,ÔÇØ katanya.

Pada kesempatan yang sama, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Destario Metusala, mengumumkan penemuan tiga spesies anggrek baru. Salah satu yang menarik perhatian adalah anggrek unik asal Aceh bernama Chiloschista tjiasmantoi.

Spesies ini kerap dijuluki sebagai anggrek akar karena hampir tidak memiliki helai daun. Proses fotosintesis tumbuhan unik ini mengandalkan bagian akar yang mengandung klorofil.

ÔÇ£Fotosintesisnya lebih dominan dilakukan oleh akar,ÔÇØ jelas Destario.

Destario memaparkan bahwa Indonesia mengoleksi sekitar 4.000 spesies anggrek, menjadikannya salah satu negara dengan keragaman anggrek tertinggi global. Mayoritas tanaman tersebut bersifat endemik dan dapat dimanfaatkan untuk industri obat, kosmetik, hingga aromatik.

Ancaman bagi kelestarian anggrek juga terus meningkat akibat alih fungsi lahan dan aksi perburuan langsung di alam liar oleh kolektor. Hal ini mendesak dilakukannya langkah penangkaran yang lebih serius.

ÔÇ£Sebagian besar bahan baku obat masih diambil dari alam. Karena itu, budidaya dan penangkaran menjadi solusi penting untuk menjaga keberlanjutannya,ÔÇØ ujarnya.

Sementara itu, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Ridha Mahyuni, menyampaikan penemuan penting lainnya. Spesies baru bernama Rafflesia harjatiae berhasil ditemukan di wilayah Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

Lokasi penemuan tanaman langka tersebut kini berada di dalam kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Ridha menerangkan bahwa rafflesia ini memiliki karakteristik visual berupa warna jingga tanpa totol-totol.

Proses identifikasi spesies baru ini dilakukan lewat kajian morfologi serta analisis molekuler yang mendalam.

ÔÇ£Penemuan ini sangat signifikan karena jumlah Rafflesia di dunia hanya sekitar 40 spesies dan hanya ditemukan di Asia Tenggara,ÔÇØ katanya.

Hingga kini, Indonesia tercatat memiliki 18 spesies rafflesia yang tersebar di Pulau Sumatra, Kalimantan, dan Jawa. Penemuan terbaru di kawasan IKN ini semakin mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pusat keragaman rafflesia di tingkat dunia.

Melalui diskusi ilmiah tersebut, BRIN menekankan pentingnya aktivitas eksplorasi, dokumentasi, dan konservasi yang berkelanjutan. Kekayaan hayati nasional dinilai krusial bagi ilmu pengetahuan sekaligus menyokong ekonomi berbasis biodiversitas masa depan.

Di sisi lain, dalam kurun waktu 2025 hingga awal 2026, BRIN mencatat sedikitnya 29 jenis flora baru di Indonesia telah berhasil dideskripsikan secara ilmiah ke publik.

Artikel terkait

Rekomendasi