Sembilan wilayah kecamatan di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur teridentifikasi masuk ke dalam zona rawan gerakan tanah atau longsor saat intensitas hujan meningkat. Berdasarkan analisis Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), risiko tersebut mengancam area yang memiliki kemiringan lereng atau berbatasan dengan sungai.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, sebagaimana dilansir dari Megapolitan, menjelaskan bahwa pemetaan ini merupakan hasil sinkronisasi data geologi dengan perkiraan cuaca bulanan dari BMKG.
ÔÇ£Prakiraan wilayah potensi terjadi gerakan tanah disusun berdasarkan hasil tumpang susun (overlay) antara peta zona kerentanan gerakan tanah dengan peta prakiraan curah hujan bulanan yang diperoleh dari BMKG,ÔÇØ tulis BPBD DKI Jakarta.
Data tersebut menempatkan tujuh kecamatan di Jakarta Selatan dan dua kecamatan di Jakarta Timur dalam kategori zona menengah. Wilayah di Jakarta Selatan meliputi Cilandak, Jagakarsa, Kebayoran Baru, Kebayoran Lama, Mampang Prapatan, Pasar Minggu, dan Pesanggrahan, sementara di Jakarta Timur mencakup Kramatjati dan Pasar Rebo.
Kondisi zona menengah menunjukkan adanya potensi sedang bagi permukaan tanah untuk bergeser, terutama jika dipicu oleh curah hujan yang melampaui batas normal. Gangguan pada lereng, tebing jalan, maupun aktivitas di sekitar lembah sungai menjadi faktor krusial yang dapat mengaktifkan kembali pergerakan tanah lama.
BPBD DKI Jakarta memberikan instruksi khusus kepada perangkat daerah dan warga untuk memperkuat langkah mitigasi di wilayah-wilayah terdampak tersebut.
ÔÇ£Untuk itu, kepada Lurah, Camat, dan masyarakat diimbau untuk tetap mengantisipasi adanya potensi gerakan tanah pada saat curah hujan di atas normal,ÔÇØ tulis BPBD.
Pemerintah daerah meminta masyarakat segera melapor melalui saluran darurat jika menemukan indikasi awal keretakan tanah atau pergeseran lereng di lingkungan sekitar. Kewaspadaan ini difokuskan sebagai upaya peringatan dini guna meminimalisir dampak kerugian material maupun korban jiwa.