BPBD DKI Antisipasi Krisis Air Bersih di Cipedak Jagakarsa

BPBD DKI Antisipasi Krisis Air Bersih di Cipedak Jagakarsa
Foto: Ilustrasi BPBD DKI Antisipasi Krisis Air Bersih di Cipedak Jagakarsa.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengantisipasi potensi krisis air bersih di Kelurahan Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Jumat (24/4/2026). Langkah ini diambil guna mencegah terulangnya kejadian kekeringan ekstrem yang pernah melanda pemukiman warga tersebut pada periode tahun sebelumnya.

Kawasan Jakarta Selatan yang biasanya menjadi jalur aliran air justru kerap mengalami kesulitan akses air tanah akibat faktor geologi yang spesifik. Fenomena ini memicu kekhawatiran karena hilangnya sumber air baku di dalam tanah yang berdampak langsung pada kebutuhan harian masyarakat di wilayah Cipedak.

ÔÇ£Ini yang namanya Jaksel, pintu air dari hulu ke hilir. Jadi mungkin orang berpikir kok ternyata masih ada yang kekeringan ya di wilayah Jaksel,ÔÇØ ujar Mohammad Yohan, Kepala Pusat Data dan Informasi BPBD DKI Jakarta, dilansir dari Megapolitan.

Yohan menjelaskan bahwa persoalan utama bukan terletak pada sistem distribusi, melainkan pada kondisi alamiah ketersediaan air tanah di lokasi tersebut. Penurunan volume sumber air baku menyebabkan kelangkaan air bersih bagi penduduk di tingkat rukun tetangga.

ÔÇ£Ketika sumber baku air tanahnya itu hilang, kekeringan, sehingga ini mengakibatkan kurang air bersih. Ini ada di Kelurahan Cipedak, Jagakarsa,ÔÇØ kata Yohan.

Berdasarkan catatan historis yang dilaporkan Megapolitan, dampak paling parah terjadi sepanjang tahun 2023 hingga 2024. Sejumlah rukun tetangga di kawasan Cipedak dan Renek Agung sempat kesulitan mendapatkan pasokan air bersih akibat kondisi cuaca yang ekstrem.

ÔÇ£Kalau dilihat pada tahun 2023, ekstremnya di 2023 ya, kejadian trending 2023-2024. Tapi kita antisipasi di 2026, jangan sampai kejadiannya,ÔÇØ ujar Yohan.

Wilayah yang terdampak krisis tersebut mencakup RT 14, RT 1, dan RT 13 yang berada di bawah naungan satu RW di Cipedak. Selain itu, kawasan Renek Agung di RW 8 yang meliputi unit RT 3, RT 4, dan RT 7 juga tercatat mengalami kendala serupa pada periode kekeringan lalu.

Masalah geologi menjadi hambatan utama karena lapisan batuan di wilayah Jagakarsa menyebabkan cadangan air berada sangat dalam di bawah permukaan tanah. Hal ini membuat ekstraksi air menjadi sulit, terutama saat debit air menurun drastis ketika memasuki musim kemarau.

ÔÇ£Ketika airnya itu lebih rendah dari lapisan batuan itu tadi, otomatis akan susah untuk mendapatkan air bersih, apalagi saat kemarau ketika suplai airnya berkurang,ÔÇØ jelas Yohan.

Sebagai bentuk penanganan darurat, BPBD DKI Jakarta sebelumnya telah berkoordinasi dengan PAM Jaya untuk mengirimkan bantuan logistik air ke lokasi terdampak. Pengiriman bantuan dilakukan secara rutin menggunakan armada mobil tangki menuju titik pemukiman yang paling membutuhkan.

ÔÇ£Pada saat kejadian tersebut, we suplai dengan mobil-mobil tanki yang ada dari PAM ke lokasi tersebut,ÔÇØ kata Yohan.

Meskipun bantuan tangki air telah dikerahkan, otoritas terkait menilai skema tersebut hanya bersifat sementara dan bukan merupakan pemecahan masalah yang berkelanjutan. BPBD kini mengusulkan pembangunan infrastruktur penunjang berupa wadah penampung air permanen di lingkungan warga.

ÔÇ£Harusnya ada tandon air, jadi warga tidak hanya bisa mengambil air saat mobil tangki datang. Tandon bisa dipakai untuk suplai air ke situ,ÔÇØ ujar Yohan.

Artikel terkait

Rekomendasi