Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan dini mengenai potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) yang diprediksi meningkat di wilayah Indonesia. Fenomena ini diperkirakan terjadi sepanjang periode 24 hingga 30 April 2026.
Dikutip dari Kompas, cakupan wilayah dengan kategori frequent (FRQ) atau lebih dari 75 persen tercatat meluas secara signifikan. Kondisi tersebut menandakan bahwa potensi cuaca ekstrem di tanah air sedang menguat.
Awan Cumulonimbus merupakan pemicu utama terjadinya hujan lebat dalam durasi singkat yang biasanya dibarengi petir serta angin kencang. Dalam beberapa situasi, jenis awan ini bahkan mampu menyebabkan hujan es dan penurunan jarak pandang secara tajam.
Data terbaru dari BMKG menunjukkan adanya penambahan daftar wilayah yang masuk dalam kategori FRQ. Wilayah tersebut memiliki probabilitas cakupan awan Cumulonimbus yang sangat tinggi.
Titik-titik yang masuk kategori ini meliputi Laut Banda, Maluku, Papua Selatan, Sumatera Selatan, serta Laut Arafuru bagian barat dan tengah. Selain itu, Samudra Hindia di selatan Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB) juga terdampak.
Kehadiran kategori FRQ di wilayah daratan seperti Sumatera Selatan dan Papua Selatan menjadi perhatian khusus. Hal ini mengindikasikan risiko hujan lebat tidak hanya mengancam wilayah perairan, tetapi juga pusat aktivitas masyarakat.
Sebaran Pertumbuhan Awan di Berbagai Pulau
Selain kategori tinggi, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam kategori occasional (OCNL) dengan cakupan antara 50 hingga 75 persen. Potensi pertumbuhan awan di wilayah ini tetap luas meski intensitasnya tidak setinggi kategori FRQ.
Di Pulau Sumatera, wilayah yang perlu waspada mencakup Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, hingga Lampung. Hampir seluruh provinsi di Pulau Jawa, termasuk Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur juga masuk kategori ini.
Kondisi serupa diprediksi melanda seluruh wilayah Kalimantan, Bali, serta sebagian besar Sulawesi. Wilayah timur seperti NTT, Maluku, dan berbagai provinsi di Papua juga tidak luput dari pantauan potensi pertumbuhan awan badai tersebut.
Dampak pada Jalur Pelayaran dan Penerbangan
Pertumbuhan awan Cumulonimbus ini juga diprediksi meliputi jalur-jalur perairan strategis Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Laut Jawa, Laut Natuna Utara, Laut Sulawesi, serta Selat Malaka, Selat Makassar, dan Selat Karimata.
Tren data menunjukkan peningkatan energi konveksi di atmosfer jika dibandingkan dengan periode minggu sebelumnya. Pada pertengahan April, kategori FRQ belum ditemukan, namun jumlahnya terus bertambah memasuki akhir bulan ini.
BMKG membagi klasifikasi pertumbuhan awan ini menjadi tiga kelompok: isolated (ISOL) untuk cakupan di bawah 50 persen, occasional (OCNL) 50-75 persen, dan frequent (FRQ) di atas 75 persen.
Lembaga tersebut mengimbau masyarakat untuk terus memantau perkembangan cuaca secara berkala. Kewaspadaan ekstra diperlukan terutama bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan serta pelaku sektor transportasi laut dan udara.