BMKG Prediksi Kemarau 2026 Lebih Kering dan Panjang Akibat El Nino

BMKG Prediksi Kemarau 2026 Lebih Kering dan Panjang Akibat El Nino
Foto: Ilustrasi BMKG Prediksi Kemarau 2026 Lebih Kering dan Panjang Akibat El Nino.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan dini mengenai kondisi musim kemarau 2026 yang diperkirakan bakal lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Fenomena ini diprediksi akan berlangsung dalam durasi yang lebih panjang dari biasanya.

Dikutip dari Kompas, masyarakat kini diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kemunculan El Nino yang menyertai musim kering tahun ini. Kedua kondisi cuaca tersebut diproyeksikan akan memberikan dampak signifikan pada penurunan curah hujan di tanah air.

Meski sering dianggap identik, BMKG menjelaskan bahwa musim kemarau dan El Nino memiliki perbedaan mendasar. Musim kemarau merupakan siklus tahunan rutin di Indonesia yang digerakkan oleh angin monsun Australia yang membawa massa udara kering.

Sebaliknya, El Nino merupakan anomali iklim global yang tidak terjadi setiap tahun. Fenomena ini muncul akibat kenaikan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, yang kemudian mengganggu sirkulasi atmosfer secara luas.

BMKG melalui unggahan resminya pada Selasa (28/4/2026) menegaskan bahwa kemarau adalah pola rutin, sedangkan El Nino adalah variabilitas yang bisa memperparah kekeringan. Interaksi keduanya berpotensi memicu kondisi cuaca yang jauh lebih ekstrem bagi lingkungan.

"Kemarau adalah musim yang pasti datang tiap tahun, sedangkan El Nino adalah variabilitas iklim antar tahunan yang dapat datang dan membuat kemarau menjadi lebih kering," tulis BMKG.

Berdasarkan proyeksi teknis, fase netral El Ni├▒o-Southern Oscillation (ENSO) akan segera berkembang menjadi El Nino. Intensitasnya diprediksi mencapai level moderat hingga kuat pada rentang waktu Mei sampai Juli 2026.

Selain faktor ENSO, Indonesia juga menghadapi ancaman fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang diperkirakan terbentuk mulai Mei 2026. Kehadiran IOD positif ini akan memangkas pasokan uap air dari Samudra Hindia, sehingga memperparah efek kekeringan.

Puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan terjadi pada Agustus 2026. Pada momentum tersebut, intensitas El Nino diprediksi terus menguat hingga September, yang berisiko memicu rendahnya curah hujan secara drastis.

Kombinasi fenomena atmosfer ini tidak hanya meningkatkan suhu udara menjadi lebih panas, tetapi juga memperbesar ancaman kebakaran hutan. Masyarakat di berbagai daerah diharapkan mulai menyiapkan langkah mitigasi menghadapi kekurangan sumber air bersih.

Artikel terkait

Rekomendasi