BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Lebih Kering Akibat El Nino

BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Lebih Kering Akibat El Nino
Foto: Ilustrasi BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Lebih Kering Akibat El Nino.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan musim kemarau tahun 2026 akan berlangsung lebih kering dibandingkan rerata periode 30 tahun terakhir di Indonesia. Fenomena ini diprediksi mulai terjadi seiring aktifnya El Nino pada akhir April hingga awal Mei 2026 mendatang sebagaimana dilansir dari Megapolitan pada Selasa (14/4/2026).

Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Rajab, memberikan penegasan bahwa meskipun kondisi cuaca diprediksi lebih kering, situasi tersebut tidak diklasifikasikan sebagai kemarau paling ekstrem dalam sejarah. Data historis mencatat bahwa kemarau pada tahun 1997 dan 2015 masih memiliki tingkat kerawanan yang jauh lebih tinggi dibandingkan proyeksi tahun ini.

ÔÇ£Musim kemarau tahun ini relatif lebih kering dibandingkan rata-rata 30 tahun, tapi bukan yang paling parah,ÔÇØ ujar Fachri Rajab, Direktur Perubahan Iklim BMKG.

Fachri juga meluruskan penggunaan istilah yang tidak ilmiah di masyarakat terkait fenomena iklim yang sedang berlangsung. Pihaknya menyatakan bahwa intensitas El Nino saat ini masih berada pada kategori lemah sebelum diperkirakan menguat pada periode Agustus hingga Oktober 2026.

ÔÇ£Di Indonesia tetap ada musim kemarau setiap tahun, dengan atau tanpa El Nino,ÔÇØ jelas Fachri Rajab, Direktur Perubahan Iklim BMKG.

Langkah mitigasi diperlukan karena kombinasi El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif berpotensi menghambat pertumbuhan awan hujan. BMKG mengingatkan adanya risiko berkurangnya ketersediaan air bersih, gangguan produksi sektor pertanian, serta peningkatan potensi kebakaran hutan dan lahan.

ÔÇ£Informasi ini harus ditanggapi serius, tapi tidak perlu panik,ÔÇØ kata Fachri Rajab, Direktur Perubahan Iklim BMKG.

Dari sisi dampak kesehatan, kenaikan suhu dan kondisi kering yang ekstrem memicu kekhawatiran terhadap munculnya berbagai penyakit. Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengimbau masyarakat untuk mengurangi durasi kegiatan di lingkungan terbuka, terutama saat radiasi panas mencapai puncaknya pada tengah hari.

ÔÇ£Suhu tinggi meningkatkan risiko heatstroke dan dehidrasi,ÔÇØ ujar Ani Ruspitawati, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta.

Masyarakat disarankan untuk disiplin menggunakan pelindung seperti topi, tabir surya, dan masker guna meminimalisir paparan polusi udara. Ani menekankan bahwa kelompok lanjut usia dan anak-anak memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap perburukan kondisi kesehatan kronis akibat cuaca panas.

Artikel terkait

Rekomendasi