Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi cuaca ekstrem akibat pertumbuhan awan Cumulonimbus masih akan melanda wilayah Indonesia pada periode 29 April hingga 5 Mei 2026. Fokus konsentrasi awan pemicu badai tersebut kini bergeser ke jalur laut utama dan wilayah selatan Pulau Jawa.
Konsentrasi awan Cumulonimbus dengan kategori frekuensi tinggi atau lebih dari 75 persen terdeteksi di sejumlah titik strategis. Sebagaimana dilansir dari Kompas, wilayah tersebut meliputi Laut Jawa bagian timur, Laut Banda, Samudra Hindia di selatan Banten, serta Samudra Hindia di selatan Jawa Timur.
Awan Cumulonimbus yang memiliki pertumbuhan vertikal tinggi ini berisiko menghasilkan hujan lebat, kilat, petir, hingga angin kencang dalam durasi singkat. Kondisi di Laut Jawa bagian timur menjadi perhatian khusus karena merupakan jalur pelayaran tersibuk yang krusial bagi mobilitas logistik nasional.
Selain area dengan intensitas tinggi, BMKG juga mencatat kategori occasional (50ÔÇô75 persen) yang mencakup hampir seluruh provinsi di Indonesia. Wilayah yang terdampak meliputi seluruh pulau besar mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua dan wilayah kepulauan di Maluku serta Nusa Tenggara.
Sejumlah selat dan perairan strategis lainnya juga masuk dalam pantauan potensi gangguan cuaca. Jalur-jalur tersebut mencakup Selat Karimata, Selat Makassar, Selat Malaka, serta Laut Flores, Laut Natuna Utara, dan Laut Sulawesi yang diprediksi akan mengalami pertumbuhan awan konvektif secara berkala.
| Wilayah Kategori Frequent (FRQ >75%) | Wilayah Kategori Occasional (OCNL 50ÔÇô75%) |
|---|---|
| Laut Banda | Aceh, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah |
| Laut Jawa Timur | Jawa Timur, Banten, Bali, Lampung |
| Samudra Hindia Selatan Banten | Riau, Kep. Riau, Sumatera Barat, Sumatera Selatan |
| Samudra Hindia Selatan Jawa Timur | Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah |
| - | Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara |
| - | NTB, Maluku, Papua, Papua Barat |
Data prakiraan ini disusun berdasarkan model cuaca numerik yang digunakan untuk memantau keselamatan penerbangan dan pelayaran dalam tujuh hari ke depan. BMKG mengimbau masyarakat, terutama di pesisir selatan Jawa dan sektor transportasi laut, untuk mewaspadai perubahan cuaca cepat yang dapat mengganggu jarak pandang.