BMKG Makassar Ungkap Gangguan Atmosfer Global Picu Anomali Hujan

BMKG Makassar Ungkap Gangguan Atmosfer Global Picu Anomali Hujan
Foto: Ilustrasi BMKG Makassar Ungkap Gangguan Atmosfer Global Picu Anomali Hujan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar mengidentifikasi gangguan atmosfer global sebagai pemicu fenomena anomali hujan pada awal musim kemarau pada Senin (18/5/2026). Dilansir dari Media Indonesia, kondisi tidak biasa ini terjadi akibat interaksi simultan dari empat gelombang atmosfer besar di wilayah Indonesia.

"Kondisi ini dipengaruhi aktifnya empat gelombang ekuator, yaitu Depresi Tropis, MJO, Gelombang Rossby, dan Gelombang Kelvin secara bersamaan. Hal ini sangat mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia," ujar Retno Noviana, Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar.

Faktor lain yang mendorong tingginya curah hujan di Sulawesi Selatan adalah kehangatan suhu muka laut di perairan Indonesia bagian timur. Suhu hangat di Laut Banda meningkatkan suplai uap air ke atmosfer, yang kemudian terbawa angin timuran menuju daratan Sulawesi Selatan hingga memicu hujan intensitas sedang hingga lebat.

"Untuk wilayah Makassar dan sekitarnya, hujan diprediksi berlangsung sampai besok (19/5). Lusa intensitasnya diperkirakan mulai berkurang," jelas Risky Yudha Pahlawan, Ketua Tim Bidang Meteorologi BMKG Wilayah IV Makassar.

Meskipun sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau sejak April hingga Juni 2026, gangguan atmosfer global ini tetap berpotensi mendatangkan cuaca ekstrem. Adapun fenomena La Nina lemah yang berlangsung sejak Oktober 2025 dilaporkan telah berakhir pada Februari 2026.

Artikel terkait

Rekomendasi