BKSDA Bogor Pasang 80 Kamera Trap Pantau Macan Tutul di Sukabumi

BKSDA Bogor Pasang 80 Kamera Trap Pantau Macan Tutul di Sukabumi
Foto: Ilustrasi BKSDA Bogor Pasang 80 Kamera Trap Pantau Macan Tutul di Sukabumi.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bogor menyebar 80 unit kamera trap untuk mendata populasi macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) di Kabupaten Sukabumi pada Kamis (7/5). Pemantauan ini difokuskan pada kawasan Suaka Margasatwa Cikepuh dan Cagar Alam Cibanteng guna mendapatkan data akurat predator puncak tersebut.

Dilansir dari Detik Travel, pelaksanaan program ini melibatkan lembaga konservasi Sintas untuk memastikan validitas jumlah individu yang tersisa di habitat alaminya. Pemasangan alat pemantau tersebut telah berlangsung selama tiga minggu dengan sasaran sensus menyeluruh terhadap macan tutul jantan maupun betina.

Kepala Resort Suaka Margasatwa Cikepuh dan Cagar Alam Cibanteng, Iwan Setiawan, menyatakan bahwa keberadaan kamera tersebut bertujuan sebagai instrumen monitoring populasi di dalam kawasan hutan.

"Tujuan pemasangan kamera trap ini untuk monitoring. Kami ingin tahu sebenarnya ada berapa ekor macan tutul di dalam kawasan. Kalau bahasa ilmiahnya, ini adalah sensus," ujar Iwan, Kamis (7/5).

Seluruh unit kamera akan merekam aktivitas satwa liar selama dua bulan ke depan sebelum memasuki tahap analisis data. Iwan menyebutkan bahwa sempat ditemukan rekaman visual awal saat petugas melakukan perbaikan teknis pada salah satu perangkat di lapangan.

"Kemarin waktu saya cek karena ada sedikit trouble di salah satu kamera, itu sebenarnya sudah ada yang tertangkap (kamera). Tapi itu belum bisa jadi acuan karena belum waktunya penarikan data," ungkap Iwan.

Pihak BKSDA sengaja tidak melakukan pemeriksaan memori kamera setiap minggu agar tidak memberikan gangguan terhadap perilaku alami satwa di lokasi penelitian. Langkah ini diambil untuk menjaga integritas data selama periode pengamatan berlangsung.

"Hasil validnya nanti setelah dua bulan. Memori akan dibuka semua, mungkin bukan cuma macan, tapi satwa lain seperti kancil, babi hutan, atau bahkan kerbau mungkin saja terekam," tambahnya.

Penempatan kamera dilakukan pada titik strategis yang sering menjadi jalur perlintasan utama bagi satwa maupun manusia. Macan tutul diketahui memiliki kebiasaan menggunakan rute yang sama secara berulang untuk berpindah tempat atau mencari mangsa.

"Pemasangannya itu di jalur-jalur yang memang terbuka. Jalur orang lewat atau jalur kerbau, di situ kami pasang," jelas Iwan.

Setiap kamera dipasang pada batang pohon dengan ketinggian antara 60 hingga 80 centimeter dari permukaan tanah. Posisi ini dinilai paling efektif untuk menangkap seluruh postur tubuh macan tutul Jawa saat melintas di depan sensor kamera.

"Ketinggiannya sekitar 60 sampai 80 senti dari dasar tanah ke pohon. Posisi ini paling ideal untuk menangkap postur tubuh macan tutul secara jelas saat melintas," tambahnya.

Untuk mengantisipasi risiko kerusakan atau pencurian oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, petugas memasang tanda peringatan resmi di setiap titik lokasi. Peringatan tersebut dilaminasi dan ditempelkan agar masyarakat yang melintas mengetahui adanya kegiatan pengawasan satwa.

"Ada kertas perhatian yang kami laminating. Isinya peringatan bahwa di area tersebut sedang dilakukan pengawasan macan tutul dan alat tidak boleh diganggu. Ada warning-nya lah di situ," tegas Iwan.

Artikel terkait

Rekomendasi