Bank Indonesia Perkuat Strategi Stabilisasi Rupiah Pasca Tekanan Global

Bank Indonesia Perkuat Strategi Stabilisasi Rupiah Pasca Tekanan Global
Foto: Ilustrasi Bank Indonesia Perkuat Strategi Stabilisasi Rupiah Pasca Tekanan Global.

Bank Indonesia (BI) memperkuat tujuh langkah strategis untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (13/5/2026). Upaya ini dilakukan melalui intervensi pasar guna menjaga fundamental ekonomi nasional di tengah tekanan eksternal.

Dilansir dari Investor Daily, pergerakan mata uang domestik mulai menunjukkan tren positif dengan menguat 53 poin ke level Rp 17.475 per dolar AS pada Rabu sore. Bank sentral meyakini penguatan ini didukung oleh pertumbuhan ekonomi triwulan I-2026 yang tetap terjaga dan inflasi yang terkendali.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan bahwa otoritas moneter sangat memperhatikan kondisi pasar saat ini. Pihaknya berkomitmen menjalankan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan rupiah bergerak sesuai dengan nilai fundamentalnya.

ÔÇ£Oleh sebab itu, sebagaimana yang disampaikan Pak Gubernur, BI sangat menyadari kondisi ini sehingga BI terus menguatkan tujuh langkah strategis Bank Indonesia dalam membuat rupiah stabil dan cenderung menguat,ÔÇØ ujar Denny.

Keyakinan bank sentral terhadap resiliensi ekonomi dalam negeri bersumber pada pengelolaan utang luar negeri yang hati-hati. Selain itu, prospek ekonomi domestik dinilai masih berada dalam jalur positif dibandingkan dengan banyak negara lain di skala global.

ÔÇ£Kami tetap meyakini dengan langkah-langkah yang dilakukan, rupiah akan stabil dan cenderung menguat karena fundamental ekonomi Indonesia sangat baik dibandingkan dengan negara-negara lain,ÔÇØ katanya.

Selain intervensi di Jakarta, BI melakukan pemantauan berkelanjutan di pasar Eropa dan Amerika Serikat untuk meredam tekanan dari transaksi non-deliverable forward (NDF). Sinergi antarlembaga juga terus ditingkatkan guna menghadapi dinamika eksternal yang cukup volatil.

ÔÇ£Kami meyakini bahwa dengan sinergi bersama BI, kementerian, dan lembaga itu mampu membuat rupiah stabil dan juga segera menguat. Karena tidak ada alasan untuk rupiah tidak menguat atau tidak stabil,ÔÇØ tutur Denny.

Tekanan terhadap rupiah saat ini dipicu oleh konflik di Timur Tengah yang melambungkan harga minyak dunia hingga lebih dari 40 persen sejak akhir Februari 2026. Selain itu, kenaikan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang mendekati 4,5 persen turut memperkuat indeks dolar AS secara global.

Kebutuhan valuta asing di dalam negeri juga mengalami peningkatan signifikan dalam jangka pendek. Faktor pendorongnya meliputi musim repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, serta pemenuhan kebutuhan untuk musim ibadah haji.

Artikel terkait

Rekomendasi