Mahasiswa dan Polisi Terlibat Bentrokan dalam Demonstrasi Hardiknas di Jakarta

Mahasiswa dan Polisi Terlibat Bentrokan dalam Demonstrasi Hardiknas di Jakarta
Foto: Ilustrasi Mahasiswa dan Polisi Terlibat Bentrokan dalam Demonstrasi Hardiknas di Jakarta.

Aksi unjuk rasa peringatan Hari Pendidikan Nasional oleh Aliansi BEM SI di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, berakhir ricuh pada Sabtu (2/5/2026) sore. Mahasiswa terlibat bentrok dengan aparat kepolisian sekitar pukul 16.55 WIB setelah massa dilarang menggelar demonstrasi tepat di depan Istana Negara.

Kericuhan tersebut dipicu oleh rasa tidak puas massa aksi yang tertahan di depan BSI Tower dan dilarang melanjutkan long march ke arah Istana. Dilansir dari Megapolitan, ketegangan mulai meningkat saat sejumlah peserta aksi mulai mendobrak barikade besi setinggi 2,5 meter dan membakar ban di lokasi kejadian.

Saih, perwakilan BEM Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah Indonesia (PTMAI), mempertanyakan alasan pihak keamanan yang menutup akses jalan bagi para pengunjuk rasa. Penutupan jalur tersebut dinilai menjadi pemantik utama timbulnya keributan antara kedua belah pihak.

"Kami sudah meminta dengan sopan dari awal, kami mau menyampaikan pendapat ke Istana, kami minta tolong diantar dengan aman ke sana. Tapi kenapa tidak diperbolehkan sehingga malah timbul keributan seperti ini?" ucap Saih, salah satu perwakilan BEM Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah Indonesia (PTMAI).

Aparat kepolisian merespons aksi pembakaran ban dengan menyemprotkan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) untuk memadamkan api. Tindakan tersebut sempat membuat barisan depan mahasiswa berhamburan karena mengira asap putih yang keluar merupakan gas air mata, sebelum akhirnya mereka kembali maju untuk melakukan aksi saling dorong.

Ketegangan fisik meningkat saat beberapa oknum dari kedua belah pihak terlihat mencoba saling memukul di sisi kiri barikade. Situasi semakin emosional ketika seorang peserta aksi berteriak terkena semprotan APAR di bagian mata, yang kemudian memicu pelemparan botol dan gelas air mineral ke arah petugas.

Perwakilan mahasiswa kembali menegaskan bahwa tujuan utama kedatangan mereka adalah untuk menyampaikan aspirasi langsung kepada Presiden Prabowo Subianto. Mereka mendesak agar ada pejabat pemerintah yang bersedia menemui massa jika akses menuju Istana tetap ditutup rapat oleh barikade.

"Kami hanya menyampaikan pendapat sebagai mahasiswa, tapi kami dibatasi. Kami ingin menyampaikan pesan kepada bapak Presiden Prabowo, tetapi tidak diperbolehkan. Bahkan, mata saya disemprot menggunakan APAR," kata Saih.

Massa akhirnya bersedia meredam aksi setelah koordinator lapangan menginstruksikan mahasiswa untuk mundur dan bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya. Meski demikian, hingga pukul 17.20 WIB, sebagian massa masih bertahan di Jalan Medan Merdeka Selatan untuk menunggu kehadiran perwakilan pemerintah.

Dalam demonstrasi ini, Aliansi BEM SI membawa sepuluh tuntutan krusial terkait kebijakan sektor pendidikan di Indonesia. Daftar tuntutan tersebut mencakup aspek anggaran, perlindungan terhadap kekerasan seksual di kampus, hingga perbaikan infrastruktur sekolah yang rusak di berbagai wilayah.

NoDaftar Tuntutan Utama BEM SI
1Reformasi tata kelola anggaran pendidikan dan penghentian komersialisasi pendidikan.
2Evaluasi Permendikbud No. 55 Tahun 2024 untuk melindungi korban kekerasan seksual di kampus.
3Menjadikan pendidikan sebagai prioritas substantif pemerintah, bukan sekadar formalitas anggaran.
4Pemerataan akses pendidikan berkualitas hingga daerah 3T.
5Peningkatan kesejahteraan dan kepastian status guru honorer.
6Rehabilitasi sekolah rusak di seluruh Indonesia.
7Kebijakan pendidikan yang konsisten dan berbasis data.
8Penguatan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal.
9Transparansi dan pengawasan ketat anggaran pendidikan.
10Mendesak revisi pembahasan UU Sisdiknas dengan melibatkan partisipasi masyarakat sipil secara nyata.

Artikel terkait

Rekomendasi