Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menilai zakat memiliki peran strategis dalam membangun tradisi ilmu pengetahuan dan persuratan di Nusantara, selain berfungsi sebagai instrumen keagamaan. Hal itu disampaikan Wakil Ketua Baznas RI Zainut Tauhid Sa'adi dalam Perayaan Sidang Pujangga Persuratan di Nusantara di Universiti Malaya, Sabtu (16/5), dilansir dari Media Indonesia.
"Zakat adalah instrumen peradaban. Dalam sejarah Islam, dari zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz hingga era ulama Nusantara, zakat bukan sekadar ritual fiskal, melainkan mesin redistribusi ilmu dan kesejahteraan," ujar Zainut Tauhid Sa'adi.
Dukungan dana umat melalui zakat, infak, dan wakaf selama ini dinilai Zainut menjadi fondasi penting bagi lahirnya madrasah, pesantren, majelis ilmu, hingga karya persuratan besar di kawasan Melayu-Nusantara. Sejumlah tokoh besar seperti Hamzah Fansuri, Nuruddin al-Raniri, Abdur Ra'uf al-Fansuri, Sunan Bonang, Hamka, hingga Syed Muhammad Naquib al-Attas disebut sebagai bagian dari warisan intelektual yang tumbuh dalam ekosistem keuangan Islam yang kuat.
"Keberadaan dana umat melalui zakat, infak, dan wakaf terbukti menjadi pilar utama yang menopang pertumbuhan literasi serta perkembangan persuratan di Nusantara hingga saat ini," kata Zainut Tauhid Sa'adi.
Zainut menegaskan bahwa forum persuratan tersebut bukan sekadar kegiatan akademik, melainkan bagian dari upaya menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam di kawasan Nusantara. Generasi saat ini memikul tanggung jawab untuk memastikan warisan pemikiran para ulama dan pujangga terdahulu tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
"Ia bukan sekadar perayaan akademis. Ia adalah ikrar kolektif bahwa kita, generasi hari ini, tidak akan membiarkan tradisi keilmuan para ulama dan pujangga Nusantara tenggelam ditelan zaman," tandas Zainut Tauhid Sa'adi.