Bappenas Dorong Perubahan Paradigma Riset demi Adaptasi Krisis Iklim

Bappenas Dorong Perubahan Paradigma Riset demi Adaptasi Krisis Iklim
Foto: Ilustrasi Bappenas Dorong Perubahan Paradigma Riset demi Adaptasi Krisis Iklim.

Pemerintah Indonesia menekankan pentingnya adopsi kebijakan berbasis bukti dan inovasi relevan guna menghadapi krisis iklim serta transisi energi bersih pada Selasa (28/4/2026). Langkah strategis ini diperlukan untuk memperbaiki tata kelola sumber daya alam nasional dalam jangka panjang.

Dilansir dari Lestari, Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Wakil Kepala Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard, mendorong adanya keberanian dalam mengubah paradigma riset di tanah air. Ia menegaskan perlunya transisi dari riset untuk publikasi menjadi riset yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

"Semua ini menunjukkan satu hal: bahwa arah pembangunan ke depan tidak bisa lagi dilakukan business as usual," ujar Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Wakil Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Wamen PPN/Wakil Kepala Bappenas), Febrian Alphyanto Ruddyard dalam Knowledge and Innovation Exchange ÔÇô Jakarta Summit Indicative Agenda di Jakarta.

Febrian merinci tiga aspek utama yang harus diperkuat untuk mencapai target tersebut. Pertama adalah penyelarasan hubungan antara peneliti dengan pembuat kebijakan demi menghapus celah antara ilmu pengetahuan dan pengambilan keputusan operasional.

Kedua, pemerintah fokus pada penguatan mekanisme translasi agar hasil riset dapat diimplementasikan menjadi kebijakan nyata. Ketiga, konsistensi dan komitmen jangka panjang dalam kemitraan menjadi kunci dalam membangun ekosistem pengetahuan yang berkelanjutan.

"Karena pada akhirnya kekuatan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alamnya, tapi juga oleh kemampuan orang-orangnya dalam mengelola pengetahuan. Dan, bangsa yang mampu mengelola pengetahuan dengan baik adalah bangsa yang mampu mengelola masa depan," ucap Febrian Alphyanto Ruddyard.

Penegasan mengenai hilirisasi inovasi juga disampaikan oleh Febrian sebagai solusi penguatan ekonomi nasional. Menurutnya, inovasi tidak boleh hanya terhenti di lingkup laboratorium tanpa memberikan kontribusi pada ketahanan iklim.

"Setiap inovasi semestinya tidak berhenti di laboratorium. Setiap inovasi harus menjadi energi baru bagi pembangunan nasional, bagi ketahanan iklim, serta bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan," kata Febrian Alphyanto Ruddyard.

Ia menyoroti tantangan global yang sering dihadapi banyak negara dalam menghubungkan riset dengan dunia kebijakan. Febrian menekankan perlunya upaya konkret untuk mengubah hasil penelitian menjadi program nyata yang bermanfaat bagi pembangunan nasional.

Artikel terkait

Rekomendasi