PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menyepakati pembagian dividen tunai sebesar Rp44,47 triliun dari laba bersih tahun buku 2025 dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang berlangsung pada Rabu, 29 April 2026. Jumlah tersebut setara dengan 79 persen dari total laba bersih konsolidasi perseroan.
Nilai dividen yang dibagikan mengalami peningkatan rasio dari tahun sebelumnya yang berada di angka 78 persen. Berdasarkan data yang dilansir dari Money, laba bersih emiten berkode saham BMRI ini mencapai Rp56,3 triliun sepanjang periode 2025.
Setiap pemegang saham akan menerima total dividen senilai Rp477 per lembar saham. Perinciannya mencakup dividen interim sebesar Rp100 per saham yang telah cair pada 14 Januari 2026 dan sisa dividen final sekitar Rp377 per saham.
Bank Mandiri mengalokasikan sekitar Rp35,15 triliun untuk pembayaran sisa dividen tunai. Sementara itu, dana sebesar Rp11,82 triliun atau 21 persen dari laba bersih ditetapkan sebagai laba ditahan guna memperkuat ekspansi bisnis di masa mendatang.
Pencapaian ini didukung oleh pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 13,4 persen secara tahunan menjadi Rp1.894,98 triliun. Kualitas aset bank tetap stabil dengan rasio kredit bermasalah (NPL) gross secara bank only pada level 0,96 persen.
Selain dividen, rapat tersebut mengesahkan perubahan susunan pengurus perusahaan dengan memberhentikan Muhammad Yusuf Ateh sebagai Komisaris. Direktur Utama Bank Mandiri Riduan memberikan tanggapan mengenai transisi jabatan di jajaran manajemen ini.
"Kami menyampaikan apresiasi kepada Bapak Muhammad Yusuf Ateh atas kontribusi dan dedikasinya bagi pengembangan dan akselerasi bisnis Bank Mandiri" ujar Riduan, Direktur Utama Bank Mandiri.
Pihak perseroan juga mendapatkan persetujuan untuk melakukan aksi korporasi berupa pembelian kembali atau buyback saham. Program ini direncanakan memiliki nilai maksimal hingga Rp1,16 triliun dan ditargetkan selesai paling lambat pada 29 April 2027.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini memberikan penjelasan mengenai latar belakang dilakukannya buyback tersebut. Menurutnya, langkah ini menjadi bagian dari strategi pengelolaan nilai perusahaan di tengah kondisi pasar yang dinamis.
"Dalam kondisi tersebut kami melihat bahwa kinerja fundamental dan profitabilitas perseroan yang tetap terjaga kuat dan konsisten belum sepenuhnya tercermin dalam valuasi perseroan. Kondisi ini menciptakan gap valuasi yang cukup signifikan yang kami pandang sebagai peluang strategis untuk meningkatkan nilai jangka panjang bagi pemegang saham" ujar Novita Widya Anggraini, Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri.
Hingga saat ini, manajemen Bank Mandiri belum mengeluarkan pengumuman resmi terkait jadwal pelaksanaan cum dividen dan tanggal pasti pembayaran dividen final kepada para investor.