Bank Indonesia Dorong Pengembangan Sistem Pembayaran dan Talenta Digital

Bank Indonesia Dorong Pengembangan Sistem Pembayaran dan Talenta Digital
Foto: Ilustrasi Bank Indonesia Dorong Pengembangan Sistem Pembayaran dan Talenta Digital.

Bank Indonesia memproyeksikan aplikasi digital termasuk rintisan berbasis gaya hidup akan mendominasi pasar masa depan seiring komitmen bank sentral memperkuat ekosistem pembayaran elektronik nasional.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan bahwa transformasi teknologi tersebut menjadi warisan utama instansi, seperti dilansir dari Investortrust. Langkah nyata ini diwujudkan melalui peluncuran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) hingga BI Fast.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam pembukaan Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) Digdaya x Hackathon 2026 di Kantor BI, Jakarta, pada Senin (23/2/2026). BI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kementerian, dan pihak industri menghadirkan wadah ini guna menyelaraskan kebijakan publik dengan kebutuhan sektor teknologi.

"Kalian akan menjadi direktur. Setidaknya direktur startup Aku Bahagia [misalnya]. Bagaimana start up untuk dating, untuk jodoh, akan laku dalam 5-6 tahun ke depan," kata Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Kolaborasi antarlembaga melalui PIDI ditujukan untuk menyaring ide inovatif generasi muda. Program ini memfasilitasi pelatihan teknis, pemahaman bisnis, hingga pendampingan terstruktur agar gagasan tersebut siap menjadi produk komersial.

Inisiatif pembuatan platform kolaboratif ini didasari oleh semangat melahirkan produk digital baru secara konsisten. Blueprint sistem pembayaran nasional sendiri telah disepakati oleh bank sentral beserta pemangku kepentingan sejak 17 Agustus 2019.

"Kita memproklamirkan satu bahasa pelayanan digital pembayaran. Namanya QR Indonesia Standard. Namanya QRIS," kata Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Infrastruktur pembayaran ini telah menjangkau 60 juta pengguna dan meluas ke Malaysia, Thailand, Singapura, serta Jepang. BI juga menjajaki perluasan interkoneksi ke China, Korea Selatan, Arab Saudi, dan India guna mempercepat transaksi lintas negara.

"Sekarang berapa (transaksi)? 1,8 triliun transaksi," ucap Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Modernisasi ini diikuti oleh pergeseran operasional perbankan nasional, di mana sekitar 30 hingga 35 bank kini telah beroperasi secara daring. Sektor perbankan memanfaatkan integrasi QRIS, BI Fast, dan Standar Nasional Open API Pembayaran (SNAP).

"Sekranag, everywhere you go, you can do transaction. Pembayaran digital layanan services di Indonesia. Anywhere," kata Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Guna menghadapi tantangan industri masa depan, BI memfokuskan pengembangan talenta muda pada tiga sektor utama. Bidang pertama mencakup layanan keuangan, sistem pembayaran, keamanan siber, anti-pencucian uang, serta pemeringkatan kredit.

"Satu, layanan keuangan dan pembayaran digital. Termasuk cybersecurity, anti money laundering, kredit rating dan segala macam akan kita teruskan," ujar Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Fokus kedua diarahkan pada peningkatan inklusi finansial di masyarakat luas. Sementara sasaran ketiga adalah mencetak talenta digital yang mampu membuka keran jasa ekspor berbasis digital.

Artikel terkait

Rekomendasi