Hujan deras yang mengguyur wilayah Kota Tangerang pada Senin (4/5/2026) menyebabkan banjir setinggi 150 sentimeter merendam permukiman warga di Kampung Candulan, Kelurahan Petir, Kecamatan Cipondoh, pada Selasa (5/5/2026) dini hari. Kenaikan debit air yang cepat memaksa penduduk segera melakukan evakuasi mandiri di tengah malam.
Kondisi genangan mulai terlihat meningkat secara signifikan sekitar pukul 00.00 WIB saat mayoritas warga sedang beristirahat. Berdasarkan laporan yang dilansir dari Megapolitan, air yang awalnya hanya setinggi 5 sentimeter dengan cepat naik dan merambah ke dalam rumah warga dalam hitungan jam.
Oman, seorang warga setempat, menjelaskan bahwa dirinya terbangun karena menyadari air sudah masuk ke dalam rumah saat tengah malam. Situasi di luar rumah mulai ramai oleh tetangga yang berupaya menyelamatkan kendaraan mereka dari luapan air.
"Mulai banjir jam 12 malam. Kita lagi tidur, terus bangun karena air sudah naik," ujar Oman, warga setempat.
Kepanikan sempat terjadi ketika ketinggian air mencapai 30 sentimeter dan terus bertambah seiring berjalannya waktu. Pada saat waktu subuh tiba, ketinggian air sudah mencapai dada orang dewasa dan merata di seluruh kawasan permukiman tersebut.
"Kalau sudah ramai orang pindahin motor, berarti air sudah naik. Kita langsung buru-buru evakuasi," kata Oman.
Kenaikan air yang drastis ini membuat warga tidak memiliki banyak waktu untuk mengamankan seluruh harta benda mereka. Oman menyebutkan bahwa kondisi banjir kali ini sangat parah dibandingkan waktu-waktu sebelumnya.
"Sampai subuh sudah rata semua, sudah sedada," kata dia.
Oman menduga penyebab banjir yang semakin sering terjadi ini dikarenakan berkurangnya lahan resapan air. Pembangunan yang padat membuat drainase tidak lagi mampu menampung debit air hujan yang tinggi.
"Mungkin lahan buat penyerapan air sudah berkurang, jadi banjirnya makin parah gitu. Dahulu kan masih ada lahan, sekarang sudah makin padat," ucap Oman.
Rena, warga lainnya yang juga memiliki warung sembako, mengaku sudah melihat tanda-tanda air naik sejak sore hari meski ukurannya masih kecil. Ia baru menyadari bahaya besar saat suaminya membangunkan untuk proses evakuasi pada pukul 01.00 WIB.
"Sore sudah ada, tapi masih kecil. Jam satu malam (01.00 WIB) sudah masuk ke rumah, naiknya cepat sekali," kata Rena.
Keluarga Rena segera memindahkan perabot rumah tangga dan barang dagangan ke tempat yang lebih tinggi sebagai langkah antisipasi. Menurutnya, meskipun genangan di dalam rumah saat itu baru setinggi 10 sentimeter, kondisi di luar rumah sudah jauh lebih tinggi.
"Cepat banget naiknya, sampai subuh aja sudah lebih dari satu meter," kata dia.
Hingga pagi hari, warga tetap terjaga karena khawatir akan adanya kenaikan air susulan jika hujan kembali turun. Rena menyebut suaminya harus berjaga semalaman untuk memantau situasi keamanan di sekitar rumah mereka.
"Sudah tidak bisa tidur kalau kondisinya begitu. Suami yang begadang, saya sempat istirahat," kata dia.
Meskipun air naik dengan sangat cepat, proses surutnya banjir di wilayah tersebut justru memakan waktu yang lama. Rena mencatat bahwa penurunan ketinggian air berjalan sangat lambat meski hujan sudah berhenti.
"Jadi kita sudah ancang-ancang sebenarnya," ujar Rena.
Hingga pukul 07.00 WIB, penurunan permukaan air dilaporkan baru mencapai sekitar 10 sentimeter dari titik tertinggi. Hal ini membuat aktivitas warga Kampung Candulan menjadi lumpuh total di hari Selasa tersebut.
"Naiknya cepat, tapi surutnya lama. Ini aja surut paling cuma 10 cm doang dari pagi tadi," kata dia.