Kawasan pertokoan dan parkir di Pasar Cipulir, Jakarta Selatan, terendam banjir setinggi 15 sentimeter pada Sabtu (2/5/2026) malam setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Dilansir dari Megapolitan, air mulai menggenangi area pintu masuk yang berkontur rendah sejak sore hari.
Para pedagang bergegas mengevakuasi barang dagangan ke lantai dua dan area tangga guna meminimalisir kerugian materiil. Kondisi lantai dasar pasar dilaporkan masih tergenang air serta endapan lumpur kecokelatan hingga Sabtu malam meski hujan telah reda.
Miran (39), salah satu pedagang di pasar tersebut, memutuskan kembali dari rumahnya di Jembatan Lima untuk membersihkan sisa banjir. Ia merasa khawatir barang dagangannya akan rusak jika air tidak kunjung surut dari area kiosnya.
"Tadi udah pulang, kita sengaja balik buat bersihin lumpurnya. Kalau ntar udah kering susah bersihinnya. Terus ya demi barang kan, takutnya rusak kena air juga. Kita bingung juga ini nggak surut-surut airnya," ujar Miran.
Miran menyebutkan bahwa genangan air sudah mulai masuk ke area lapaknya sejak pukul 14.00 WIB. Menurutnya, penyebab utama banjir bukan hanya luapan kali di sisi pasar, melainkan kegagalan sistem drainase di Jalan Ciledug Raya.
"Bukan cuma air kali ini ya, dari got juga. Got depan kan karena turunan kayaknya enggak kesedot buat dibuang airnya, jadi air terpaksa masuk ke sini terus setiap hujan," keluh Miran.
Meskipun pihak pengelola telah berupaya melakukan pengurukan lantai dasar hingga 40 sentimeter, luapan air kiriman tetap sering masuk ke pasar. Miran menyatakan ketidakpastian cuaca sering membuat air tiba-tiba muncul meski di lokasi sekitar tidak sedang hujan.
"Dulu pernah sampai tinggi, tapi sekarang agak mending lah udah diuruk. Naik 30 sampai 40 sentimeter. Tapi kadang nggak hujan pun, tau-tau air datang, air kiriman dari Bogor. Kalau di jalanan dan kali enggak mampu menampung, meluap di sini masuk pasar," jelas Miran.
Permasalahan ini telah lama dirasakan oleh pedagang lain, termasuk Syaiful (36) yang baru setahun berjualan kemeja di lokasi tersebut. Ia menyoroti proyek pengerjaan rumah pompa di area depan yang kunjung usai sebagai salah satu pemicu lambatnya pembuangan air.
"Sering (banjir). Apalagi semenjak ada galian yang di depan ini rumah pompa. Itu udah lama, bertahun-tahun enggak beres-beres. Galian nggak selesai-selesai," ungkap Syaiful.
Syaiful menjelaskan bahwa debit air bisa meningkat drastis dalam waktu singkat saat intensitas hujan tinggi. Langkah antisipasi tercepat yang dilakukan pedagang adalah memindahkan barang ke posisi yang lebih tinggi menggunakan karung.
"Air keburu (naik), sejam saja udah langsung penuh. Ya pokoknya kalau asal hujan, kita naikin aja (barang) pakai karung-karung ke atas tangga," ucap Syaiful.
Pedagang terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk biaya cuci pakaian jika stok dagangan mereka terkena luapan air yang berlumpur. Hal ini pernah dialami Syaiful pada awal tahun yang mengakibatkan keuntungan usahanya berkurang drastis.
"Kemarin sempat dua sampai tiga lusin terendam. Alhamdulillah masih bisa tertolong di-laundry. Cuma ya itu, ongkosnya jadi berlipat-lipat kan karena laundry butuh ongkos. Habis lah, boncos jadinya," kata Syaiful.
Potensi kerugian besar selalu menghantui jika volume barang yang terendam mencapai puluhan lusin, terutama untuk pakaian jenis gamis yang bernilai tinggi. Kondisi ini membuat para pedagang sangat mendesak adanya perbaikan infrastruktur secara permanen.
"Waktu kemarin toko sebelah sampai habis barangnya kena banjir semua, ada 50 lusin. Bayangin saja, barang bagus kayak gamis dijual Rp 100 ribuan per potong. Kalau grosiran selusin Rp 750.000, hitung aja tuh kerugiannya, banyak banget," ucap Syaiful.
Kebutuhan akan pembenahan drainase menjadi aspirasi utama para pedagang agar aktivitas ekonomi di Pasar Cipulir tidak terus terganggu setiap musim penghujan tiba. Miran mewakili pedagang lainnya meminta perhatian serius dari pemerintah daerah dan pengelola pasar.
"Ada harapan penginnya sih pemerintah atau pihak PD (Pasar) sini beresin lah gotnya gitu, biar kalau ada hujan dikit air nggak masuk. Kita juga merasa jenuh banjir terus. Walaupun kita udah bikin meja, tetap waswas namanya sama air," tutup Miran.