Banjir Rendam Pasar Cipulir Jakarta Selatan Setinggi 15 Sentimeter

Banjir Rendam Pasar Cipulir Jakarta Selatan Setinggi 15 Sentimeter
Foto: Ilustrasi Banjir Rendam Pasar Cipulir Jakarta Selatan Setinggi 15 Sentimeter.

Genangan air setinggi 15 sentimeter merendam kawasan Pasar Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, pada Sabtu (2/5/2026) malam. Kondisi ini memaksa sejumlah pedagang kembali ke pasar guna menyelamatkan barang dagangan dari ancaman kerusakan akibat air yang masuk ke dalam kios.

Hujan deras yang mengguyur Jakarta sejak siang hingga sore hari menjadi pemicu luapan air tersebut, sebagaimana dilansir dari Megapolitan. Meskipun ketinggian air hanya belasan sentimeter, dampak banjir ini sangat dirasakan oleh para pedagang tekstil di lokasi tersebut.

Syaiful (36), salah satu pedagang di lokasi, menyatakan bahwa air dapat naik dengan sangat cepat saat hujan turun sehingga evakuasi barang harus segera dilakukan. Menurutnya, keterlambatan dalam mengantisipasi kenaikan debit air akan berakibat fatal bagi stok dagangan mereka.

"Kalau telat, air keburu naik, sejam saja sudah langsung penuh. Jadi ya pokoknya kalau asal hujan, kami naikin saja (barang dagangan) pakai karung-karung ke atas tangga," kata salah satu pedagang, Syaiful (36) di lokasi, Sabtu.

Syaiful menjelaskan bahwa banjir mendadak ini sering menimbulkan kerugian finansial, seperti insiden pada pertengahan Maret 2026 lalu. Saat itu, banjir melanda pada dini hari di awal bulan puasa ketika aktivitas pasar belum dimulai.

"Kemarin sempat dua sampai tiga lusin terendam. Alhamdulillah masih bisa tertolong di-laundry. Cuma ya itu, ongkosnya jadi berlipat-lipat kan karena laundry butuh ongkos. Habis lah, boncos jadinya," kata Syaiful.

Keluhan mengenai frekuensi banjir juga disampaikan oleh pedagang lainnya, Miran (37), yang mengaku tokonya sudah terendam sebanyak tujuh kali dalam setahun terakhir. Ia menilai sistem drainase di depan pasar tidak berfungsi optimal dalam mengalirkan air.

"Got depan kan karena turunan kayaknya enggak kesedot buat dibuang airnya, jadi air terpaksa masuk ke sini terus setiap hujan," keluh Miran.

Miran menambahkan bahwa pembangunan rumah pompa dan galian di depan pasar yang tidak kunjung selesai turut memperburuk keadaan. Kondisi ini diperparah oleh kiriman air dari hulu yang sering meluap ke area pasar meski cuaca di lokasi tidak sedang hujan.

"Apalagi sejak ada galian yang di depan ini, rumah pompa. Itu sudah lama, bertahun-tahun enggak beres-beres. Galian enggak selesai-selesai," ungkap Syaiful.

Syaiful juga menyoroti kapasitas sungai di samping pasar yang kerap tidak mampu menampung debit air kiriman dari Bogor. Hal ini membuat air meluap dan masuk ke area perdagangan secara tiba-tiba.

"Tapi kadang enggak hujan pun, tahu-tahu air datang, air kiriman dari Bogor. Kalau di jalanan dan kali enggak mampu menampung, meluap di sini masuk pasar," jelasnya.

Para pedagang kini menaruh harapan besar kepada pihak pengelola pasar dan pemerintah untuk segera memperbaiki infrastruktur saluran air. Perbaikan permanen diharapkan dapat menghilangkan kekhawatiran pedagang setiap kali cuaca buruk melanda.

"Ada harapan inginnya sih pemerintah atau pihak PD (Pasar) sini bereskan lah gotnya gitu, biar kalau ada hujan sedikit air enggak masuk. Kami juga merasa jenuh banjir terus. Walaupun kami sudah bikin meja, tetap waswas namanya sama air," harap Miran.

Miran yang tinggal di Jembatan Lima bahkan harus kembali ke pasar untuk membersihkan sisa lumpur demi menjaga kualitas barang dagangannya. Ia menyebutkan bahwa genangan sempat mencapai 50 sentimeter pada siang hari sebelum akhirnya menyusut di malam hari.

"Tadi sudah pulang, kami sengaja balik buat bersihin lumpurnya. Kalau nanti sudah kering susah bersihinnya. Terus ya demi barang kan, takutnya rusak kena air juga. Kami bingung juga ini enggak surut-surut airnya," ujar Miran.

Artikel terkait

Rekomendasi