Menjaga hati dari sifat takabur atau sombong merupakan aspek krusial dalam menjalankan ibadah bagi setiap Muslim. Dilansir dari Cahaya, Ketua Komisi Dakwah MUI Kabupaten Mojokerto, KH Nur Rohmad, menekankan bahwa kesombongan adalah penyakit hati yang sangat berbahaya karena mampu merusak tumpukan amal ibadah seseorang.
Umat diajak untuk menyadari bahwa setiap individu akan menghadapi pertanggungjawaban atas segala hal yang dilihat, didengar, dan dirasakan. Mengingat hati berfungsi sebagai pemimpin seluruh anggota tubuh, maka perilaku lahiriah seseorang merupakan cerminan langsung dari kondisi batinnya.
Kondisi anggota badan akan menjadi baik jika hatinya bersih, namun sebaliknya akan rusak jika hati terjangkiti penyakit. Kesucian hati hanya dapat dicapai dengan membersihkan dan menyembuhkan gangguan-gangguan batin tersebut agar tidak berlarut-larut.
Larangan bersikap takabur terhadap sesama manusia tertuang secara jelas dalam Al-Quran, khususnya pada surat Al-IsraÔÇÖ ayat 37. Ayat tersebut mengingatkan manusia agar tidak berjalan di muka bumi dengan gaya yang penuh dengan kecongkakan.
Sehebat apa pun pijakan kaki manusia, ia tidak akan pernah mampu menembus bumi. Begitu pula dengan kesombongan yang tidak akan pernah bisa membuat seseorang menyamai ketinggian atau kokohnya gunung-gunung yang diciptakan Allah SWT.
Pesan serupa juga terdapat dalam nasihat Lukman kepada putranya yang diabadikan dalam firman-Nya:
┘ê┘Ä┘ä┘ÄϺ Ϭ┘ÅÏÁ┘ÄÏ╣┘æ┘ÉÏ▒█í Ï«┘ÄÏ»┘æ┘Ä┘â┘Ä ┘ä┘É┘ä┘å┘æ┘ÄϺÏ│┘É ┘ê┘Ä┘ä┘ÄϺ Ϭ┘Ä┘à█íÏ┤┘É ┘ü┘É┘è ┘▒┘ä█íÏú┘ÄÏ▒█íÏÂ┘É ┘à┘ÄÏ▒┘ÄÏ¡┘ïϺ█û ÏÑ┘É┘å┘æ┘Ä ┘▒┘ä┘ä┘æ┘Ä┘ç┘Ä ┘ä┘ÄϺ ┘è┘ÅÏ¡┘ÉÏ¿┘æ┘Å ┘â┘Å┘ä┘æ┘Ä ┘à┘ÅÏ«█íϬ┘ÄϺ┘ä┘û ┘ü┘ÄÏ«┘Å┘êÏ▒
"Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri." (QS. Luqman: 18)
Definisi Takabur dan Jenis-jenisnya
Pengertian takabur secara terminologi telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim. Beliau bersabda:
Ϻ┘ä┘â┘ÉÏ¿┘ÆÏ▒┘Å Ï¿┘ÄÏÀ┘ÄÏ▒┘ŠϺ┘ä┘ÆÏ¡┘Ä┘é┘É┘æ ┘ê┘ÄÏ║┘Ä┘à┘ÆÏÀ┘ŠϺ┘ä┘å┘æ┘ÄϺÏ│┘É
Artinya: ÔÇ£Takabur adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.ÔÇØ (HR Muslim)
Berdasarkan landasan tersebut, takabur terbagi menjadi dua klasifikasi utama. Pertama adalah sikap menolak kebenaran meskipun orang tersebut menyadari bahwa hal yang disampaikan adalah benar. Penolakan ini biasanya didasari karena pembawa kebenaran dianggap lebih muda atau memiliki kedudukan sosial yang lebih rendah.
Contoh nyata dari jenis pertama ini adalah kebinasaan FirÔÇÖaun, kaum Bani Israel pada masa Nabi Isa AS, serta Abu Lahab. Mereka menutup mata terhadap mukjizat dan kebenaran hanya karena khawatir akan kehilangan kekuasaan, kehormatan, atau posisi tawar di tengah masyarakat.
Jenis kedua adalah sikap memandang diri sendiri memiliki keistimewaan yang melampaui orang lain. Seseorang merasa dirinya paling sempurna dan penuh kebaikan, namun lupa bahwa semua kelebihan tersebut hanyalah titipan dari Allah SWT.
Sifat Rendah Hati sebagai Solusi
Perilaku merendahkan orang lain tidak hanya menjangkiti orang kaya atau penguasa, tetapi bisa terjadi dalam lingkup keluarga dan pendidikan. Seorang suami bisa saja merendahkan istrinya, seorang ayah terhadap anaknya, atau guru terhadap muridnya tanpa disadari secara langsung.
Seseorang yang senantiasa mengawasi hatinya akan meyakini bahwa kecerdasan, harta, dan jabatan bukan berasal dari kehebatan pribadi. Kesadaran ini akan mendorong seseorang untuk tetap mengasihi mereka yang berada di bawahnya dan mengamalkan sikap tawadhu.
Tawadhu atau rendah hati merupakan salah satu bentuk ibadah yang paling utama, namun sering kali dilalaikan. Hal ini ditegaskan dalam riwayat Sayyidah ÔÇÿAisyah yang menyebutkan sabda Nabi SAW:
ÏÑ┘É┘å┘æ┘Ä┘â┘Å┘à┘Æ ┘ä┘ÄϬ┘ÄÏ║┘Æ┘ü┘Å┘ä┘Å┘ê┘Æ┘å┘Ä Ï╣┘Ä┘å┘Æ Ïú┘Ä┘ü┘ÆÏÂ┘Ä┘ä┘É Ïº┘ä┘ÆÏ╣┘ÉÏ¿┘ÄϺϻ┘ÄÏ®┘É Ïº┘äϬ┘æ┘Ä┘ê┘ÄϺÏÂ┘ÅÏ╣
Artinya: ÔÇ£Sungguh kalian telah melalaikan salah satu bentuk ibadah yang paling utama, yaitu tawadhuÔÇÖ (bersikap rendah hati).ÔÇØ
Penerapan sikap rendah hati secara menyeluruh di masyarakat diyakini dapat menghapuskan kebencian, permusuhan, serta rasa iri dengki. Dengan menjauhi persaingan yang tidak sehat untuk bermegah-megahan, setiap orang dapat lebih menikmati karunia yang telah dianugerahkan Allah SWT kepada mereka.