Studi Chalmers Ungkap Aturan Uni Eropa Picu Pemborosan Energi Pesawat

Studi Chalmers Ungkap Aturan Uni Eropa Picu Pemborosan Energi Pesawat
Foto: Ilustrasi Studi Chalmers Ungkap Aturan Uni Eropa Picu Pemborosan Energi Pesawat.

Regulasi Uni Eropa (UE) yang dirancang untuk mempercepat adopsi bahan bakar pesawat ramah lingkungan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) justru berpotensi memicu lonjakan harga dan pemborosan energi.

Temuan ini merupakan hasil riset terbaru dari Universitas Teknologi Chalmers di Swedia, seperti dikutip dari Lestari pada Kamis, 14 Mei 2026.

Para peneliti mengungkapkan bahwa kebijakan saat ini cenderung memihak pada metode produksi yang memerlukan konsumsi listrik dan sumber daya lebih besar, padahal terdapat alternatif yang lebih efisien secara teknis.

Laporan riset ini muncul di tengah ketidakstabilan harga minyak global dan ketegangan politik antara Amerika Serikat serta Israel terhadap Iran.

Kondisi tersebut mendorong Eropa untuk memperkuat kemandirian energi melalui peningkatan produksi bahan bakar non-fosil di dalam negeri.

Sesuai aturan UE yang berlaku sejak tahun lalu, setiap bandara di wilayah tersebut wajib menggunakan minimal 2 persen SAF, dengan target mencapai 70 persen pada 2050.

Setengah dari kuota tersebut harus dipenuhi oleh Renewable Fuels of Non-Biological Origin (RFNBO), yakni bahan bakar sintetis dari hidrogen terbarukan dan karbon dioksida.

Inovasi yang Terhambat Regulasi

Profesor teknologi energi di Chalmers, Henrik Thunman, memberikan penegasan mengenai dampak regulasi terhadap arah industri.

"Peraturan tidak hanya memengaruhi investasi industri pada teknologi, tetapi juga menentukan hal apa yang diprioritaskan dalam penelitian dan pengembangan," kata Henrik Thunman.

Henrik Thunman menambahkan peringatan mengenai risiko dari kebijakan yang kurang tepat bagi perkembangan teknologi di masa depan.

"Alih-alih mendorong inovasi menuju solusi yang paling efisien, kita berisiko terjebak dalam metode produksi yang kurang hemat sumber daya," tutur Henrik Thunman.

Analisis para peneliti mencakup tiga metode pembuatan metanol sintetis sebagai bahan dasar SAF. Dua metode pertama melibatkan pembakaran biomassa dengan penangkapan gas sisa, sementara metode ketiga menggunakan teknik gasifikasi.

Keunggulan Metode Gasifikasi

Berdasarkan studi tersebut, teknik gasifikasi yang memanaskan biomassa secara langsung menjadi gas terbukti memberikan hasil yang jauh lebih optimal secara ekonomi dan teknis.

Peneliti utama laporan ini, Johanna Beiron, memaparkan data perbandingan efisiensi antara ketiga metode yang diuji.

"Cara gasifikasi terbukti paling hemat sumber daya dalam analisis kami, dengan biaya produksi hingga 46 persen lebih murah dan butuh listrik 30 persen lebih sedikit dibandingkan dua cara lainnya," ujar Johanna Beiron.

Meskipun lebih efisien, Uni Eropa saat ini tidak mengakui sebagian besar bahan bakar berbasis gasifikasi ke dalam kategori RFNBO karena dianggap menggunakan terlalu banyak karbon dari biomassa.

Sebaliknya, bahan bakar dari pembakaran di pembangkit listrik tetap dianggap memenuhi syarat selama karbon dioksidanya ditangkap kembali.

Pendekatan ini dikhawatirkan akan meningkatkan tekanan pada stok biomassa yang terbatas serta menaikkan total kebutuhan energi secara keseluruhan.

Ketidakpastian regulasi ini diprediksi akan menyulitkan pelaku industri dalam mengambil keputusan investasi besar untuk memperluas produksi SAF dalam beberapa tahun mendatang.

Artikel terkait

Rekomendasi