Negara-negara ASEAN diimbau untuk memaksimalkan implementasi Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) daripada berfokus pada perluasan keanggotaan baru karena kemitraan 15 negara ini telah menjadi landasan kuat bagi penguatan rantai pasok regional.
Rekomendasi tersebut mengemuka dalam diskusi Jakarta Globe Insight bertajuk ASEAN at a Crossroads: Turning Global Turmoil into Regional Opportunity di Hotel Mulia, Jakarta, pada Selasa (26/5/2026), sebagaimana dilansir dari Investor Daily.
Mantan Duta Besar Indonesia untuk Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Iman Pambagyo, menjelaskan posisi sentral kawasan ini dalam kemitraan tersebut.
"RCEP itu kan nggak cuma ASEAN, tetapi core-nya memang ASEAN," ujar Iman Pambagyo.
Iman menilai penguatan implementasi dokumen yang sudah disepakati jauh lebih mendesak dibandingkan merumuskan format kerja sama baru.
"Daripada kita mencari-cari resilience regional supply chain yang lain, RCEP sudah jadi, dokumennya sudah jelas," ucap Iman Pambagyo.
Saat ini upaya optimalisasi sedang dibahas oleh kalangan akademisi hingga pebisnis melalui forum Track 1.5 agar manfaatnya meluas.
"Sedang berjalan usaha untuk memastikan RCEP ini berjalan maksimal," jelas Iman Pambagyo.
Mengenai wacana bergabungnya negara baru seperti Bangladesh, Sri Lanka, Chile, hingga Hong Kong, perundingan diperkirakan bisa buntu tanpa kesepakatan bersama.
"Jangan paksakan bicara mengenai keanggotaan baru," kata Iman Pambagyo.
Pemanfaatan fasilitas RCEP sejauh ini masih didominasi oleh China, Jepang, dan Korea Selatan, sementara Indonesia dan negara ASEAN lain belum optimal.
"Indonesia termasuk yang memanfaatkan, tapi masih jauh dari optimal," beber Iman Pambagyo.
Langkah penambahan anggota disarankan menjadi agenda jangka panjang agar konsentrasi anggota saat ini tidak terpecah.
"Fokus saja bagaimana memastikan 15 negara ini bisa betul-betul mendapat manfaat dari integrasi ekonomi regional ini, bukan malah jalan sendiri-sendiri," kata Iman Pambagyo.