Kawasan Jakarta Selatan seperti Kebayoran, Lebak Bulus, dan Manggarai menyimpan rangkaian sejarah yang berkaitan erat dengan kondisi alam, aktivitas masa kolonial, serta migrasi penduduk. Wilayah-wilayah ini mengalami transformasi besar dari fungsi asalnya sebelum terintegrasi menjadi bagian dari metropolitan Jakarta.
Berdasarkan buku "Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta" karya Rachmat Ruchiat (2018), penamaan banyak daerah di ibu kota dipengaruhi oleh faktor geografis, jenis flora dan fauna, hingga komunitas pendatang yang menetap di sana, seperti dilansir dari Megapolitan.
Nama Kebayoran diambil dari istilah kabayuran, yang merujuk pada lokasi penimbunan kayu bayur. Kayu jenis ini sangat populer pada masa lalu karena karakteristiknya yang kuat dan memiliki ketahanan tinggi terhadap serangan rayap sebagai material bangunan.
Selain kayu bayur, daerah ini berfungsi sebagai penampungan kayu gelondongan sebelum dikirim ke Batavia. Proses pengiriman dilakukan dengan cara menghanyutkan kayu-kayu tersebut menyusuri aliran Kali Krukut dan Kali Grogol.
Pemerintah kolonial pada 1938 sempat merencanakan Kebayoran sebagai lokasi bandar udara internasional, namun rencana itu kandas akibat pecahnya Perang Dunia II. Pasca kemerdekaan, tepatnya pada 1949, kawasan tersebut akhirnya dikembangkan menjadi Kota Satelit Kebayoran Baru.
Lebak Bulus: Lembah Habitat Kura-Kura
Penamaan Lebak Bulus bersumber dari kondisi ekosistem wilayah tersebut di masa lampau. Secara bahasa, lebak berarti lembah, sementara bulus adalah sebutan untuk kura-kura air tawar (Amyda cartilaginea).
Arti harfiah dari Lebak Bulus adalah lembah kura-kura. Penamaan ini diduga kuat muncul karena kawasan yang dialiri Kali Grogol dan Kali Pesanggrahan tersebut dahulunya merupakan habitat alami bagi banyak kura-kura.
Catatan sejarah menunjukkan wilayah ini sudah dikenal sejak abad ke-17. Surat kepemilikan tanah tahun 1675 mencatat bahwa Lebak Bulus pernah dimiliki oleh Bapak Made dan Bapak Candra sebelum jatuh ke tangan pemilik lain hingga era kolonial Belanda.
Manggarai: Warisan Perantau Flores Barat
Asal-usul nama Manggarai berkaitan erat dengan keberadaan para pendatang dari Flores Barat yang bermukim di sana. Mereka menamai pemukiman baru tersebut sesuai dengan daerah asal mereka di Nusa Tenggara Timur sebagai bentuk ikatan emosional.
Wilayah ini juga menjadi pusat pelestarian seni tradisional. Sebelum periode Perang Dunia II, tarian lenggo yang diiringi musik rebana biang tumbuh subur di Manggarai. Kesenian ini kemudian berevolusi menjadi tari belenggo yang menjadi bagian dari identitas budaya Betawi.
Jejak kolonial Belanda di Manggarai masih terlihat jelas melalui infrastruktur perkeretaapian. Kehadiran stasiun, bengkel kereta api, serta tata ruang perumahan yang rapi menjadi bukti fisik sejarah panjang kawasan ini.