Mengungkap Asal-usul Nama Kawasan Cengkareng Glodok dan Grogol Jakarta Barat

Mengungkap Asal-usul Nama Kawasan Cengkareng Glodok dan Grogol Jakarta Barat
Foto: Ilustrasi Mengungkap Asal-usul Nama Kawasan Cengkareng Glodok dan Grogol Jakarta Barat.

Nama-nama wilayah di Jakarta Barat seperti Cengkareng, Glodok, dan Grogol menyimpan riwayat panjang yang melampaui sekadar penanda geografis. Kawasan ini merupakan saksi bisu pertemuan budaya, jejak sejarah kolonial, hingga transformasi fungsi lahan dari masa ke masa.

Melansir buku "Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta" karya Rachmat Ruchiat (2018), penamaan tempat di ibu kota banyak dipengaruhi akar bahasa lokal serta adaptasi lidah masyarakat setempat. Hal ini disampaikan dalam laporan yang dikutip dari Megapolitan.

Identitas Cengkareng diduga kuat berasal dari bahasa Sunda, yaitu Cikangkareng. Kata "ci" memiliki arti air atau sungai kecil, sedangkan "kangkareng" merujuk pada burung enggang atau Buceros rhinoceros yang merupakan spesies burung bercula.

Hingga pengujung abad ke-19, penduduk di wilayah Cengkareng, Kebon Jeruk, dan Kebayoran Lama tercatat masih aktif menggunakan bahasa Sunda. Hal ini memperkuat bukti pengaruh bahasa tersebut dalam penamaan wilayah di Jakarta Barat.

Pada pertengahan abad ke-18, lahan Cengkareng dikuasai oleh pejabat tinggi VOC, Michiel Romp. Ia mendirikan rumah peristirahatan bergaya Indis pada tahun 1762, meski gedung megah tersebut akhirnya hangus terbakar pada September 1945.

Berdasarkan data Regerings Almanak tahun 1881, tanah di kawasan ini sempat dimiliki oleh perusahaan Belanda Firma Brijnst en Vinju sebelum akhirnya disewakan kepada Tan Oen Tjong. Saat itu, komoditas utama dari lahan Cengkareng meliputi padi, kelapa, dan rumput.

Glodok: Bunyi Pancuran Air dan Adaptasi Lidah

Kawasan Glodok yang kini dikenal sebagai pusat perdagangan memiliki beberapa versi sejarah penamaan. Salah satu teori menyebutkan bahwa nama ini muncul dari suara air yang mengalir atau "grojok" dari sebuah pancuran kayu setinggi 10 kaki.

Sekitar tahun 1670, terdapat waduk penampungan air Kali Ciliwung di lokasi tersebut. Masyarakat Tionghoa yang bermukim di sana kemudian melafalkan bunyi air "grojok" menjadi "glodok" sesuai dengan aksen lidah mereka.

Versi lain mengaitkan nama ini dengan Jembatan Glodok di Kali Besar yang dibangun sekitar tahun 1643. Di ujung jembatan tersebut terdapat tangga di tepi kali yang dalam bahasa Sunda disebut sebagai golodok.

Tangga ini menjadi pusat aktivitas masyarakat Batavia, mulai dari penduduk pribumi hingga warga Belanda, yang menggunakannya untuk mandi dan mencuci pakaian di aliran kali tersebut.

Grogol: Jejak Perburuan Macan

Nama Grogol diambil dari kata dalam bahasa Sunda, garogol, yang bermakna alat penangkap satwa liar berukuran besar. Penamaan ini merujuk pada kondisi wilayah tersebut di masa lalu yang masih banyak dihuni oleh macan.

Pada paruh kedua abad ke-18, sebagian besar lahan di sepanjang aliran Kali Grogol merupakan milik Reinier de Klerk. Ia adalah pejabat VOC yang kemudian menjabat sebagai Gubernur Jenderal dan pemilik awal gedung yang kini menjadi Gedung Arsip Nasional.

De Klerk sempat membangun rumah peristirahatan di Grogol, namun pembangunannya baru diselesaikan pada tahun 1792 oleh pemilik baru bernama Andries Hartsinck. Wilayah tanah partikelir ini kemudian berkembang dan terbagi menjadi beberapa area seperti Petamburan dan Kebon Jeruk.

Artikel terkait

Rekomendasi