Angkatan Laut Amerika Serikat menjadwalkan pengerahan drone bawah air pada Rabu (15/4/2026) sebagai bagian dari operasi pembersihan ranjau laut di Selat Hormuz. Langkah ini diambil Komando Pusat AS (Centcom) untuk menjamin keamanan jalur ekspor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah.
Upaya sterilisasi wilayah perairan tersebut melibatkan kapal perusak berpeluru kendali USS Frank E. Peterson dan USS Michael Murphy. Dilansir dari Detik iNET, kedua kapal perang tersebut telah melintasi Selat Hormuz guna memastikan area perlintasan maritim telah bebas dari ancaman peledak bawah air.
Keputusan pembersihan ini menyusul laporan dari New York Times yang menyebut pasukan Iran menggunakan kapal kecil untuk menebar ranjau di lokasi tersebut. Pihak Iran dikabarkan mengalami kesulitan dalam mendeteksi kembali dan mengangkat ranjau-ranjau yang telah mereka pasang sebelumnya.
"Hari ini, kami memulai proses membangun jalur pelayaran baru dan kami akan segera membagikan jalur aman ini kepada industri maritim guna mendorong kelancaran arus perdagangan," kata perwakilan Centcom seperti dikutip dari Defense Scoop melalui Detik iNET.
Presiden AS Donald Trump melalui unggahan di Truth Social menyatakan telah menginstruksikan Angkatan Laut untuk memberlakukan blokade di sekitar Selat Hormuz. Kebijakan tegas ini muncul setelah negosiasi mengenai program nuklir Teheran dengan pejabat senior AS di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan akhir pekan lalu.
Dalam operasi ini, drone bawah air jenis Knifefish menjadi salah satu perangkat utama yang berpotensi diterjunkan. Kendaraan bawah air tak berawak (UUV) buatan General Dynamics ini dirancang khusus untuk bekerja dari Kapal Tempur Pesisir dalam mendeteksi objek berbahaya di kedalaman laut.
Teknologi pada Knifefish diklaim mampu mengidentifikasi ranjau yang terkubur di dasar laut maupun yang berada di lingkungan dengan gangguan tinggi. Drone ini berperan sebagai sensor eksternal untuk mengurangi risiko terhadap personel karena kapal induk dapat tetap berada di luar area ranjau selama proses identifikasi berlangsung.
Pengerahan unit tambahan militer Amerika Serikat, termasuk berbagai jenis drone bawah air lainnya, dipastikan akan terus bertambah dalam beberapa hari mendatang. Centcom menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah memulihkan stabilitas arus logistik global di jalur strategis tersebut.