Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat menyetujui penjualan persenjataan dan sistem militer senilai lebih dari US$ 8,6 miliar atau setara Rp 149 triliun kepada Israel, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab pada Sabtu (2/5/2026). Langkah ini dilakukan di tengah situasi keamanan kawasan yang dinilai tidak stabil secara signifikan.
Keputusan tersebut diambil saat konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah memasuki pekan kesembilan. Dilansir dari Detik Finance, kesepakatan ini tetap berjalan meski mengabaikan prosedur peninjauan dan persetujuan standar dari Kongres Amerika Serikat.
Pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa pengiriman cepat alutsista ke wilayah tersebut merupakan kebutuhan mendesak. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, memberikan penjelasan resmi terkait kebijakan darurat yang diambil oleh pihak eksekutif tersebut.
"Ada keadaan darurat yang memerlukan penjualan segera ke negara-negara tersebut, yang secara efektif mengesampingkan persyaratan peninjauan kongres standar," kata Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (2/5/2026).
Dalam rincian transaksi tersebut, Qatar mengalokasikan US$ 4,01 miliar untuk pengisian ulang sistem pertahanan rudal Patriot. Selain itu, negara tersebut juga membeli Sistem Senjata Pembunuh Presisi Canggih (APKWS) dengan nilai mencapai US$ 992,4 juta.
Kuwait menyepakati pembelian sistem komando pertempuran terintegrasi senilai US$ 2,5 miliar. Sementara itu, Israel dan Uni Emirat Arab masing-masing menyetujui pembelian APKWS senilai US$ 992,4 juta dan US$ 147,6 juta guna memperkuat lini pertahanan mereka.
Sejumlah korporasi pertahanan raksasa ditunjuk sebagai kontraktor utama dalam pengadaan ini. BAE Systems akan menangani penyediaan APKWS untuk Qatar, Israel, dan Uni Emirat Arab, sedangkan RTX dan Lockheed Martin bertanggung jawab atas sistem komando Kuwait dan rudal Patriot Qatar.
Keterlibatan Northrop Grumman juga tercatat sebagai kontraktor utama untuk proyek militer di Kuwait. Tingginya nilai kontrak ini mencerminkan besarnya ketergantungan para sekutu di Timur Tengah terhadap keunggulan teknologi pertahanan yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan asal Amerika Serikat.