AS Izinkan 10 Perusahaan China Beli Chip AI Nvidia H200

AS Izinkan 10 Perusahaan China Beli Chip AI Nvidia H200
Foto: Ilustrasi AS Izinkan 10 Perusahaan China Beli Chip AI Nvidia H200.

Pemerintah Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah memberikan lampu hijau kepada sekitar 10 perusahaan teknologi asal China untuk melakukan pembelian chip AI Nvidia H200. Langkah ini menandai dinamika baru dalam kebijakan kontrol ekspor teknologi tingkat tinggi dari Washington ke Beijing.

Departemen Perdagangan AS dikabarkan telah menyetujui lisensi tersebut, sebagaimana dilansir dari Tekno. Keputusan ini memungkinkan sejumlah raksasa teknologi untuk mengakses perangkat keras pendukung kecerdasan buatan tersebut secara resmi.

Beberapa korporasi besar yang masuk dalam daftar penerima izin antara lain Alibaba, Tencent, ByteDance yang merupakan induk TikTok, serta JD.com. Selain itu, distributor besar seperti Lenovo dan Foxconn juga disebut mendapatkan izin serupa untuk mendistribusikan chip tersebut di pasar China.

Berdasarkan ketentuan lisensi yang diterbitkan, setiap perusahaan diizinkan untuk membeli hingga 75.000 unit chip H200. Angka ini merupakan batasan volume yang ditetapkan oleh otoritas Amerika Serikat dalam kerangka pengawasan perdagangan mereka.

Nvidia H200 sebenarnya bukan merupakan chip AI paling mutakhir yang dimiliki oleh perusahaan asal Santa Clara tersebut. Produk ini merupakan varian yang kemampuannya telah dipangkas atau diturunkan agar selaras dengan aturan ketat ekspor teknologi yang ditetapkan pemerintah AS untuk wilayah China.

Sebelumnya, otoritas AS memperketat pengiriman chip semikonduktor guna melindungi dominasi serta keunggulan teknologi mereka di kancah global. Meski kini mulai melonggar, pemberian izin tetap disertai dengan serangkaian prasyarat yang sangat ketat bagi para pembeli.

Peraturan baru yang diterbitkan pada Januari lalu mewajibkan setiap perusahaan China memberikan bukti konkret bahwa chip tersebut tidak akan dimanfaatkan untuk sektor militer. Nvidia sendiri memegang tanggung jawab untuk memastikan ketersediaan stok di wilayah domestik AS sebelum proses pengiriman dilakukan.

Selain itu, pemerintahan Donald Trump dilaporkan menerapkan skema ekonomi khusus terkait transaksi ini. Amerika Serikat dikabarkan akan menerima 25 persen dari total pendapatan yang dihasilkan dari penjualan unit-unit chip tersebut ke pasar Negeri Tirai Bambu.

Mengingat hukum federal AS tidak mengizinkan adanya pungutan ekspor secara langsung, maka chip tersebut diwajibkan melewati wilayah AS terlebih dahulu sebelum dikirim ke pembeli di China. Mekanisme transit ini memicu kekhawatiran di pihak Beijing terkait adanya potensi celah keamanan atau manipulasi perangkat keras.

Respons Perusahaan China dan Strategi Industri Domestik

Meskipun izin dari Washington telah keluar, proses penjualan chip H200 dilaporkan belum berjalan secara efektif. Sejumlah sumber mengindikasikan bahwa perusahaan-perusahaan teknologi di China mulai menahan diri untuk melakukan pembelian dalam skala besar.

Kondisi ini dipicu oleh arahan dari pemerintah Beijing yang khawatir bahwa ketergantungan yang terlalu besar pada produk Nvidia akan menghambat ambisi mereka. China saat ini tengah berupaya keras membangun ekosistem industri semikonduktor domestik yang mandiri.

Banyak perusahaan di Negeri Tirai Bambu mulai beralih menggunakan solusi lokal, salah satunya adalah chip buatan Huawei. Peralihan ini menempatkan posisi pasar Nvidia dalam situasi yang kian menantang, mengingat mereka sebelumnya mendominasi 90 hingga 95 persen pangsa pasar chip AI kelas atas di sana.

Pendiri sekaligus CEO Nvidia, Jensen Huang, baru-baru ini mengakui bahwa pangsa pasar perusahaannya di China secara praktis telah turun hingga ke level nol. Hal ini merupakan dampak langsung dari kebijakan kontrol ekspor yang diterapkan oleh pemerintah Amerika Serikat.

Komitmen Nvidia Terhadap Supremasi Teknologi Amerika

Meski harus menghadapi kerugian pasar yang signifikan, Jensen Huang menyatakan dukungannya terhadap kebijakan keamanan nasional negaranya. Ia sepakat bahwa China memang tidak seharusnya memiliki akses terhadap chip AI dengan kasta teknologi tertinggi saat ini.

"Amerika Serikat harus memiliki yang pertama, yang terbanyak, dan yang terbaik," ujar Jensen Huang menekankan pentingnya kepemilikan perangkat keras AI dalam persaingan global.

Secara spesifik, Jensen Huang menyebutkan bahwa arsitektur GPU AI generasi terbaru miliknya, yaitu Blackwell dan Rubin, tidak boleh jatuh ke tangan pihak China. Menurutnya, AS harus memegang kendali penuh dalam perlombaan teknologi kecerdasan buatan di masa depan.

Kendati mendukung supremasi teknologi AS, bos Nvidia tersebut tetap berharap agar langkah bisnis perusahaan-perusahaan Amerika tidak mati sepenuhnya di kancah internasional. Ia meminta kelonggaran agar para pemain semikonduktor tetap bisa bertransaksi di pasar China selama produk yang dijual tidak melanggar batasan ekspor.

Artikel terkait

Rekomendasi